Blog ini sedang dalam masa pemeliharaan.

Ironi Di Balik Kemolekan Pulau Sombori

Oleh NR Novika

Tanah Sulawesi memang menyimpan banyak misteri. Relief pulau yang berbukit, warna hijau yang masih mendominasi, dan lautan biru mengelilingi dengan gosong pasir putih yang terukir abstrak, menarik. Akhir Juli tahun lalu, saya tengah menjelajahi sebuah tempat menawan di bagian tengah ‘k’ pulau ini. Beberapa media menyebut tempat itu sebagai ‘Raja Ampat-nya Sulawesi”. Ah, kata siapa. Biarlah Raja Ampat menjadi milik Papua Barat sana. Saya lebih suka saat orang lokal menyebut satu nama sebagai julukan daerah kepulauan ini. Mereka menyebutnya dengan nama Sombori.

Tinggal bersama Suku Bajo selama hampir satu bulan di Pulau Tiga, Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah membuat saya seolah tak bisa lepas dari laut. Namanya juga suku laut terbesar. Tiada hari tanpa mengobor (istilah melaut dalam bahasa Bajo). Bahasa dan presiden saja mereka punya sendiri. Beruntung saya bisa mengenal mereka. Merekalah yang membawa saya hingga sampai di daerah yang tengah dibangga-banggakan pemerintah setempat akan menjadi ikon pariwisata provinsi ini.

“Itu Pak, pulaunya?”

“Iya, setengah jam lagi kita sampai!”,

kata Pak Suhardin, pemilik body (kapal berukuran sedang) bernama Monalisa yang tengah saya tumpangi untuk mencapai Pulau Sombori. Monalisa adalah nama anak pertamanya di Pulau Tiga. Ketika ia memutar kemudi, kulihat di tangannya terdapat tato bertuliskan kata ‘Hasrat’ di bagian lengan kirinya. Dibuat dari tinta Cina katanya. Tato yang diukir pasca kegagalan kisah cintanya di Pontianak dulu.

“Kita tidak pernah tahu di mana jodoh kita berada, to?”,

ujarnya sambil nyengir. Duh, bapak!

Setelah 90 menit mengarungi lautan, bayangan pulau-pulau karang yang melintang di depan kami semakin lama terlihat semakin jelas. Ombak yang semula terus menghantam body perlahan menghilang saat kami memasuki celah gugusan pulau karang tersebut. Tenang dan sepi, namun tampak megah. Saya cuma bisa mangap-mangap mengaguminya. Sekilas saya melihat ada pantai tersembunyi di balik pulau karang kecil yang kami lewati. Sungguh cantik perpaduan pasir putih dan warna biru muda di balik ranting-ranting pohon yang menghalangi. Menjaga pantai itu agar tetap tersembunyi dari manusia-manusia yang diperbudak teknologi kamera dan tren ‘explore’ di sosial media.

Body terus melaju menuju ke sebuah rumah panggung yang berdiri sendiri di antara pulau-pulau karang tak berpenghuni ini.

“Assalamu Alaikum Nenek Endong!”,

ujar Pak Suhardin usai turun dari body sambil menyalami seorang nenek yang tengah duduk santai di teras rumah panggungnya bersama seorang laki-laki dan perempuan muda.

“Waalaikumsalam”,

jawabnya.

Saya ikut menyalami mereka dan duduk di samping Nenek Endong. Lalu mereka mengobrol dengan bahasa Bajo. Meski saya telah belajar beberapa kosakata bahasa Bajo, namun saya tetap kesulitan memahami percakapan mereka. Lelah senyum-senyum saja karena tidak paham, alih-alih saya menoleh ke arah seberang rumah panggung ini.

Seketika mata saya membelalak.

Saya terpana.

Suatu pemandangan yang begitu indah untuk sebuah pekarangan rumah. Degradasi warna biru muda dan tua yang seperti kristal, memantulkan sinar matahari siang itu. Megahnya tebing-tebing karang yang telah rapat ditumbuhi tanaman hijau. Dan sejuknya hembusan angin yang begitu tenang, menggoyang pelan body yang hanya diikat dengan tali tambang di salah satu tiang rumah panggung ini.

Oh Nenek Endong, betapa beruntungnya engkau!

“Hei Ika, kata Nenek Endong kau mirip dengan cucunya yang sudah meninggal!”,

teriak Pak Suhardin mengejutkanku.

Ha? Apa katanya?!

Saya menatap Nenek Endong. Nenek berbicara ke arah saya dengan bahasa Bajo yang masih juga tak kumengerti.

“Dulu nenek punya cucu mirip sekali dengan kau. Tapi sudah lama meninggal”,

ujar seorang perempuan di samping Nenek Endong yang sepertinya tahu bahwa saya tidak paham perkataan Nenek Endong.

Glek! Tiba-tiba saya merinding.

Namun kulihat sorot matanya yang merindu. Ah, nenek. Mengingatkan saya akan sorotan mata sayu almarhum nenek saya dulu. Lagi-lagi saya cuma bisa senyum.

Saya jadi membayangkan jika memutuskan untuk hidup di sini bersama Nenek Endong. Tidak ada listrik. Tidak ada televisi. Tidak ada lemari es. Dan tidak ada sinyal! Saya tidak akan tahu siapa artis yang kini sedang panas dipergunjingkan di media sosial. Saya juga tidak akan ambil pusing untuk menyaring berita hoax di grup WhatsApp. Bahkan permasalahan agama di Indonesia yang tengah memprihatinkan pun tak mungkin saya tahu.

Perjalanan saya ke Sombori saat itu tidak hanya bersama Pak Suhardin saja, melainkan juga ada Mas Fariz dan teman-teman lainnya. Mas Fariz adalah seorang kawan asal Jawa Timur yang berkelana ke Pulau Tiga dan menikahi seorang gadis Bajo. Bertahun-tahun hidup dengan suku Bajo, membuat bahasa Bajonya sudah sangat lancar, untung ia masih ingat berbahasa Jawa. Ia menolong saya dengan menjadi penerjemah percakapan mereka kala itu. Setelah menanggapi Nenek Endong dengan bahasa Bajo, ia lalu menjelaskan padaku dengan bahasa Jawa. Begitu seterusnya. Luar biasa. Suwun Mas!

Iki lho, masalah kelola wisata Sombori sik mereka debatkan”,

kata Mas Fariz.

Ya, kabarnya pemerintah setempat akan menjadikan Kepulauan Sombori ini sebagai destinasi ‘ekowisata’ unggulan Sulawesi Tengah. Karena kenampakan alamnya yang ‘katanya’ menyerupai Raja Ampat. Saya bahkan tak yakin pengucap pernyataan ini pernah mengunjungi langsung Raja Ampat. Memang, keindahan gugusan pulau karang ini luar biasa. Di belakang rumah Nenek Endong bahkan terdapat sebuah goa yang masih menyimpan suasana mistis karena adanya tengkorak manusia yang konon mengasingkan diri di goa tersebut.

Saya juga mendapati pemandangan yang tak kalah menakjubkan saat saya dan teman-teman meminjam sampan milik anak Nenek Endong untuk berkeliling pulau. Ketika dua pulau karang seperti membentuk sebuah gerbang batu besar untuk masuk ke gugusan pulau berikutnya. Mengingatkan saya akan film ‘King Kong’ milik Peter Jackson. Sungguh magis dan bernilai historis. Warna biru yang menggoda, membuat saya langsung memakai masker dan snorkel tanpa berganti baju terlebih dulu.

Byurr!

Ah segarnya!

Tunggu, apa ini?!

Apa yang saya lihat di bawah ternyata jauh dari ekspektasi. Tidak ada ikan. Karang pun hanya beberapa. Terlihat lebih banyak puing-puing karang yang berserakan dan memutih, bercampur dengan pasir putih. Seolah seperti tengah melihat video pasca penyerangan di Syria atau Palestina. Hah! Betapa ironis. Rupanya penangkapan ikan dengan bom atau bius masih hal yang umum terjadi di lautan Sulawesi.

Pemerintah setempat sajaknya harus berpikir ulang dengan program ‘ekowisata’-nya terhadap kepuluan Sombori ini. Permasalahan klise pariwisata Indonesia, terlalu buru-buru untuk berkoar-koar tanpa persiapan sumber daya dan pengelolaan yang matang. Kasihan alam negeriku ini. Sudah rusak, bukannya dibenahi malah dibangun kerusakan yang semakin menjadi. Kasihan pula Nenek Endong. Kiranya apa kau sudi jika pekarangan rumah yang menemani sejak kecil kini tak lagi bisa kau rawat sendiri karena telah ada orang lain yang menguasai?

Penulis:

Nur Rakhma Novika (NR Novika)
Penggemar hal-hal menyimpang -- sebab yang menyimpang belum tentu salah.

Fun diver. Ocean enthusiast. Love stories and tell stories. Share your thought about my stories here:

  • Email : nurranovika@gmail.com
  • Instagram: NR Novika

Cuma seorang pejalan yang gemar memaknai hubungan sosial.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.