Hari Senin, kami kembali berusaha menyampaikan aspirasi yang tertunda terhalang aparat keamanan. Memang, aparat keamanan bertugas mengendalikan keadaan supaya tidak banyak kerugian yang timbul akibat suatu aksi/kegiatan/peristiwa yang berpotensi keos. Melihat bagaimana kami diperlakukan polisi yang bertugas 'mengamankan' aksi Kamis (16/7) lalu, sepertinya saya urung menyebut mereka sebagai penjaga kedamaian. Justru dari aparatlah yang memancing keributan dengan menggeser pagar kawat hingga hampir mengenai sepeda saya.
Dari sekretariat, kami memancal pedal jelang siang hari. Kali ini ada Faiz, kenalan kami yang baru dua hari dengan sepeda minivelo-nya. Ia berencana mengajak kami menyambangi kediamannya tak jauh dari DPR/MPR.
Cuaca sangat terik, namun kami semangat untuk kembali menyampaikan surat ke Dewan terhormat.
"Piye, surat-surate aman to? (Gimana, surat-suratnya aman kan?)" saya mengecek bagasi sepeda, dua amplop itu sudah cukup lecek namun tetap layak disampaikan. Tak lupa kami mengisi botol-botol dengan air dingin.
***
Suara Rakyat di Ujung Senapan
Perjalanan dimulai. Untuk bisa tiba di DPR/MPR, lebih cepat melewati jalan dalam. Faiz memandu di depan karena toh kami kurang paham jalan. Dari Rawamangun, kami mengikuti jalur sepeda menuju Tugu Proklamasi. Banyaknya persimpangan di ujung Jln. Penataran membuat Faiz mengambil kanan menuju Jln. Pangeran Diponegoro. Ada beberapa gang di kiri, tapi rupanya Faiz salah masuk gang. Boro-boro cepat tiba di tujuan, kami justru menemui jalan buntu menuju Gedung CMU2 RSCM. 😅
Ia kembali mengarahkan jalan. Kali ini kami melewati Salemba menuju RS PGI Cikini. Lalu lintas sangat padat di area yang telah dilengkapi pedestrian. Mungkin kawasan tongkrongan melihat banyaknya kuliner laiknya area Kemang. Sepeda-sepeda kami membelah lautan kendaraan. Saya mudah tinggal gowes dan turunkan kaki. Kawan-kawan sepeda tinggi harus turun dan menuntut tunggangan mereka.
Selepas SPBU Cikini, kami berbelok ke Jln. Cilacap. Laiknya kawasan Menteng lainnya, pepohonan rimbun meneduhkan perjalanan kami. Jalan Cik Ditiro sedikit turun dan menanjak. Beberapa pengendara yang tidak sabaran mengklakson kami, Faiz mengarahkan ke Jln. Cut Nyak Dien supaya tenang.
Entah berapa kali kami berputar arah, mengambil jalan yang tidak umum, hingga membuat Jarpo nyeletuk, "Kita lewat jalan yang bener nggak Iz? Soalnya butuh cepat sampai tujuan." Saya sih santai saja, mau diterima atau tidak suratnya, omnibus law akan tetap diloloskan pemerintah dengan alasan apapun. Seperti RUU KPK tahun lalu, meski ditentang banyak pihak tetap disahkan, dan masyarakat melupakan hal ini begitu saja.
Satu jam lebih kami mengitari Jakarta, menikmati rimbunnya Menteng Raya, membelah pertokoan dan perkantoran Wahid Hasyim, akhirnya kami tiba di Medan Merdeka Barat. Saya paling depan, dengan santai menggowes Kromo, mengambil lajur kanan karena akan menuju istana. Lampu menyala hijau. Di persilangan Medan Merdeka Barat dengan Medan Merdeka Utara, saya melihat anggota brimob tengah berjaga. Tidak seperti hari Sabtu lalu, pengawasan jauh lebih ketat. Rupanya tidak hanya satu, ada empat-lima orang yang berjaga mengelilingi istana.
Belum sampai di pagar istana, dengan sigap anggota brimob menodongkan senapan serbu yang sudah dalam posisi siaga itu ke arah saya...
...ke arah saya, yang bersepeda dengan celana krim, kaos merah bertuliskan Tolak Omnibus Law, dan caping yang dicat merah.
Dengan lantang, Ia mengusir saya sambil mengayunkan ujung senapan. Saya diminta menyingkir.
Daripada nyawa hilang hanya karena ingin menyampaikan sepucuk surat pada Kepala Negara, lebih baik saya mundur. Setengah menit kemudian, iring-iringan pejabat negara masuk istana. Jalan benar-benar steril. Setelah konvoi tersebut, anggota brimob merapat ke gerbang utama.
***
"Dadi, piye Po? (Jadi, gimana Po?" tampaknya Jarpo juga terlihat shock oleh kejadian barusan. Ia mencoba berpikir jernih, "Liwat Kemensesneg wae, ning sisih samping (Lewat Kemensesneg aja, lewat pintu sebelah)."
Kami segera menuju lokasi.
Di depan pagar, ada salah seorang anak yang tengah dibantu petugas—mungkin pegawai kementerian, untuk mengajukan bantuan sosial. Saya mendengar bait-bait identitas disebutkan oleh sang orang tua untuk mengharap belas kasihan dari negara, yang seharusnya mengayominya. Beberapa berkas penting Ia serahkan pada petugas, mempercayakan keinginannya agar terwujud.
Saya membuka tas, mengoper surat yang kian kucel itu pada Jarpo. Saat akan memasukkan surat, Ia ditegur oleh satuan pengaman, yang sama-sama menggunakan senapan.
"Syaratnya harus dimasukkan dalam map cokelat, ada materai, surat penyataan, fotokopi KTP," entah apa kelanjutannya saya malas mendengarnya. Jarpo yang meladeni sang petugas pun dibuat sedikit kesal sehingga Ia ingin segera mengakhiri obrolan singkat siang itu.
"Intine istana tutup pintu (Intinya istana menutup pintu)," ucap Jarpo sedikit kesal. Saya pun juga. Katanya di era presiden sipil dua periode ini akan ada penyederhanaan birokrasi, semua formalitas akan dikurangi toh tidak begitu berpengaruh pada efektivitas dan efisiensi kerja birokrat. Kenyataannya, proses penyampaian pendapat masih sangat berbelit-belit.
Waktu kami terbatas, dan hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Meski cuaca sangat berpolusi dan panas, kami segera meninggalkan komplek istana negara dan menuju komplek DPR/MPR di Senayan. Tak lupa kami berfoto untuk meninggalkan jejak kekecewaan kami.
***
Sorot Lensa, Bagian Dua
Area perkantoran Sudirman - Thamrin masih sangat sibuk. Lajur sepeda yang pada akhir pekan selebar 3 lajur menjadi 2 meter saja. Memang sih namanya popped up bike lane sifatnya sementara sehingga fleksibel untuk diatur kelebarannya.
Faiz memimpin di depan, ketika Jarpo, Riko, Bang Pepe dan saya mengekor di belakang. Langit Jakarta kian kelabu, hawa semakin lembab. Awan gelap terlihat menggantung rendah, menutup puncak-puncak gedung kantor dengan ketinggian di atas 100 meter. Tampaknya di depan sedang hujan. Kami tetap santai mengayuh pedal.
Tiba di f(x) Sudirman, kami menyeberangi sempadan tengah. Kondisi jalanan Jakarta yang car-centric memang sangat menyusahkan pesepeda. Kalau menenteng lewat sempadan, berbahaya. Lewat JPO (jembatan penyeberangan orang), rentan jadi omongan orang.
Kami mengitari GBK, sengaja masuk DPR lewat pintu belakang.
Setibanya di pintu belakang, Jarpo meminta saya merekam dirinya mencoba memasukkan berkas. Dalam waktu singkat petugas keamanan langsung marah keras karena adanya perekaman, "Di sini nggak boleh direkam mas." Seumur-umur baru sekarang apa-apa serba dilarang.
Kami beralih ke pintu masuk motor. Jarpo meminta izin petugas untuk memasukkan surat. Beda reaksi dengan petugas pintu utama belakang, para petugas di sini ramah menyambut kami. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang juga pesepeda. Dalam sekejap suasana mencair, kami pun melebur sebagai sesama goweser.
Jarpo mengisi buku tamu, mendapatkan kartu nama serta diantar petugas menuju bagian tata usaha. Di sana, surat dari kami didisposisikan ke Ketua DPR RI, Puan Maharani. Selesai, Jarpo menerima surat yang berisi nomor pelacakan supaya tahu sudah dimana surat berada.
Selesai, kami segera meninggalkan gedung DPR/MPR. Agenda berikutnya: syuting. Salah satu media alternatif Indonesia, Human On Wheels berfokus mendokumentasikan kisah-kisah manusia di atas roda. Bagi mereka, perjalanan anak-anak Sepeda Tinggi Yogyakarta merupakan kisah menarik untuk diangkat. Kami janjian bertemu di Plaza Tenggara GBK. Segera kami menuju lokasi setelah hujan mereda.
Seorang mbak-mbak dan kolega kerjanya menanti di plaza ujung kolam. Saya jadi ingat momen pembukaan Asian Games 2018 lalu kalau melihat monumen yang entah apa namanya ini.
Kami di-briefing terlebih dahulu soal mekanisme peliputan kali ini, "Masnya nanti kalau ngomong hadap ke kamera ya."
Setelah mengitari hutan GBK, kami menemukan spot yang enak untuk syuting, sepi, tanpa banyak nyamuk. Sepeda-sepeda kami ditata di belakang.
Syuting di hutan selesai. Waktunya pengambilan gambar untuk tambahan video. Tentu yang jadi sorotan utama adalah Riko, Bang Pepe, dan Jarpo yang menggunakan sepeda tinggi. Toh di sini, saya cuma sebagai dokumentator—alasan praktis kenapa sepedanya pendek. 😅 Selain di dalam area GBK, syuting juga dilakukan mengitari jalan lingkar luar GBK, tepatnya dari f(x) Sudirman sampai Plasa Senayan. Mobil Brio putih itu melambat, sesekali berjalan beriringan. Di pertigaan Plasa Senayan, kami berpisah. Tak lupa, beberapa bekal makanan ringan diberikan untuk perjalanan pulang. Lumayan. 😙
Jelang malam, waktunya ke rumah Faiz. Samar-samar saya dengar ibunya sedang menyiapkan salah satu makanan khas Betawi di rumahnya. Dengan sisa tenaga, kami mengayuh sepeda (kembali) melewati pintu belakang DPR/MPR menuju Pasar Palmerah. Omong-omong soal pasar ini, kembali mengingatkan saya pada perjalanan hati Desember lalu. Meski pada akhirnya saya dan dia hanya teman biasa, semoga kami tetap langgeng dengan status terkini.
Sama seperti Desember lalu, jalanan Palmerah benar-benar ramai padat. Meski PSBB (seharusnya) masih berlaku, masyarakat tumpah ruah di jalan. Jam pulang kantor benar-benar membuat suasana kian keos. Teman-teman sepeda tinggi pun sedikit kesusahan mencari tiang untuk bersandar ketika macet.
Kami tiba di rumah Faiz di Sukabumi Utara. Sebuah spanduk terbentang di depan rumahnya kalau orang tua Faiz menjual Laksa—kudapan khas Betawi yang akan kami santap malam ini, bersama dengan Bir Pletok untuk minumannya. Laksa buatan ibunya bisa dipesan di GoFood maupun GrabFood.
"Ini mas, boleh dicoba," lima piring Laksa tersaji di tengah-tengah kami. Sembari melahap santap malam, ibunda Faiz bercerita kalau putranya pernah bersekolah di pondok pesantren sebelah rumah saya di Magelang. Benar, pantas saja saya tidak asing dengan wajahnya Faiz. Mungkin pernah secara sekilas melihat wajah orang ini di kampung halaman.
Obrolan malam itu sayangnya tak berlangsung lama. Kami harus segera mengakhiri episode petualangan di Jakarta. Kami berpamitan pada keluarga Faiz. Ramainya gang Jln. Adam membuat sepeda tinggi kembali menarik perhatian.
Kami berangkat menuju sekretariat. Faiz hanya bisa mengantar hingga pinggir rel Palmerah saja. Berpisah, semoga kita dapat berjumpa lagi.