Blog ini sedang dalam masa pemeliharaan.

Perburuan Bintang di Pacitan

Kabur sebentar dari suntuknya kehidupan perkotaan.

Oh my darlin', oh my lover. Tell me that there is no other. I love you with my heart.

Menghayati Senja Merona Pangasan

Lantunan lagu lawas tahun 50-an menggema dari pengeras suara Eggle Terra 2 yang saya bawa. Musik bertajuk 'Diana' yang dibawakan oleh Paul Anka itu diputar dari ponsel Rio, yang dia sendiri sedang sibuk mendirikan tenda. Sedang saya, 'sibuk' memandang angkasa sembari menghayati kekuasaan Maha Pencipta. Ini adalah kali ketiga saya dengan Rio berkelana alam terbuka. Sebagai perantau yang sudah stres selama pandemi hanya di kosan saja, pergi jauh seperti ini selalu menyenangkan.

"Tenan iki ra gelem dibantu? Aku wis nawani lho (Beneran ini nggak mau dibantu? Gue udah nawarin loh)."

"Orasah Jo. Sing ayem wae. Aku ki ngemong kowe kok (Nggak perlu Jo. Santai saja. Gue mengayomi elu kok)," jawab Rio tersenyum lebar. Lucu sih. Meski saya lebih tua 2 tahun di atasnya, pengalaman saya di bidang aktivitas luar ruangan (outdoor activities) memang tidak sekaya Rio. Mesti romantis banget kalo Rio ngajak kemping kekasihnya. 😂 Andai saya punya hobi begini.  

Rio mempersiapkan tenda

Wallpaperable

Dikeluarkannya frame tenda berwarna oranye itu, "Nek tenda larang to Jo, misal frame-e diuncal iso ajeg (Kalau tenda yang mahal Jo, misal frame-nya dilempar akan lurus sendiri)." Oiya? Saya coba, dan benar saja frame tenda itu mengunci dengan sendirinya. Mekanisme fisika sebenarnya, tapi saya tetap kagum melihatnya.

Pemandangan beranda tenda sempurna

Lima menit berkutat dengan hembusan angin, akhirnya tenda tegap berdiri.  "View-ne pas nek ngene iki (Pemandangannya pas kalo gini)," Rio menempatkan posisi tenda sangat strategis: kami bisa melihat tebing di sisi barat dan timur teluk sekaligus, atau menghadap ke utara menikmati sempadan sawah yang sedang hijau-hijaunya. Rio pun mencari beberapa bilah bambu dan batu yang Ia temukan di antara semak belukar, lalu diikatkan pada tali sheet sebagai jangkar agar tenda tidak terlepas dan terbang. Tugas saya hanya menata barang bawaan di sisi pendek tenda kapasitas dua orang ini.

Sehelai matras olahraga yang saya bawa digelar di samping tenda, saya ingin bermeditasi sejenak menghadap laut lepas.

Tebing di sisi timur teluk

Lompat tidak

***

Sekumpulan anak muda datang. Mereka rupanya santri asal Madiun yang baru datang pukul 10 pagi tadi. Rio mengajak berkenalan, dan saya yang introvert pun terpaksa ikut menyalami pula. Rio memang biasa berkelana sendiri dengan tenda dan peralatan kemping yang Ia miliki. Bonus dari perkenalan, biasanya orang-orang akan menawarinya makanan sehingga tidak perlu repot-repot bawa banyak makanan dari tempat asal. Dasar! 😂

Datang dari arah utara, para santri ini juga sempat khawatir ada penyekatan di perbatasan Ponorogo - Pacitan. Tapi tidak ada sama sekali. Mereka berlima tidur di tenda dengan kapasitas 4 orang, "Emange muat po?"

"Jane yo muat-muat wae. Kan sing kelimo iso ning sisih lebare (Sebenarnya ya muat-muat saja. Kan yang kelima bisa tidur di area kaki)," oh begitu. Dulu kalau kemping saya pesan tenda kapasitas 4 orang untuk dipakai 3 orang sih.

Goa di sisi timur teluk merupakan hasil abrasi selama bertahun-tahun

Saya berpose menghadap lautan lepas

Rio mengajak saya ke sisi timur teluk, dimana anak-anak muda ini berasal. Di sisi ini, terhampar luas pantai pasir putih dengan bebatuan besar pecah karena erosi. Pantai ini cukup miring dengan tanaman kebun di sisi daratannya. Beberapa nelayan sibuk menata jaring agar ikan atau kepiting yang terhempas ombak terjerat. Pantai pasir putih ini relatif bersih meski di sudut-sudut tentu sudah ada sampah sebagai bukti peradaban manusia.

"Aha, apik iki (Wah, keren ini)!" jiwa-jiwa aquascape Rio kembali. Ia mencari batu karang, ranting yang tererosi, atau sisa-sisa cangkang binatang yang bisa dijadikan hiasan akuarium di kamarnya. Saya mengedarkan pandangan. Ada pemandangan yang sempat bikin saya heran: beberapa daun pisang terjajar di balik batu. Buat apa? Makan kembulan? Kayaknya masih bersih daunnya. Atau mungkin...

"HAHAHA, BILIK BERCINTA BAJINGAN!" saya tergelak keras sampai terpingkal-pingkal. Make sense memang berkawin di tengah malam menghadap lautan lepas. Mungkin penggemar genre ekshibisionis.

Di sisi timur teluk ini ada sebuah gua alami yang terbentuk oleh abrasi. Awalnya kami ingin menyambangi goa itu. Tingginya gelombang ombak yang ritmenya susah ditebak membuat kami urung. Apalagi saya membawa ponsel, takut rusak kalau kena air laut. Ya sudah, duduk-duduk di atas batu sembari menikmati senja yang akan sirna bersamaan mendengarkan musik boleh juga.

"Setel sing pas yo musike (Putar musik yang enak ya)," pinta saya.

Pantai Pangasan sisi timur berpasir putih

Seumur hidup sudah berulang kali nemu bilik bercinta

Pengeras suara Eggle Terra 2 rekomendasi Rio memang mantap - tahan air, tahan banting, tahan debu

***

Sorot mentari sore sudah condong di ufuk barat: sialnya Ia tidak berada di belahan Bumi selatan. Matahari di sisi utara khatulistiwa menjadi pertanda masuknya musim kemarau di Indonesia. Ketika memasuki bulan Juni, angin kering dari Australia yang sedang musim dingin akan berhembus santai menuju Asia. Alhasil, cuaca di Indonesia khususnya Jawa bagian selatan akan relatif sejuk dan dingin. Maka hari ini adalah cuaca yang paling saya sukai: cerah, namun tidak lembab sehingga tidak membuat saya lekas berkeringat. Semoga saja cuaca tetap bersahabat hingga malam nanti, dimana saya dan Rio akan melakukan perburuan jejak langit bermodal ponsel saya. Ya, hape ini diklaim bisa memotret bintang, namun saya belum pernah menguji kebenarannya.

"Sik, aku tak nggolek degan yo," anak santri tenda sebelah dengan beberapa butir kelapa membuat Rio ingin memanjat pohon kelapa. Lah buset. Pohon-pohon kelapa di pinggir pantai ini tampaknya jarang dipanjat karena belum ada bekas congkelan golok.

Tiga belas menit kemudian, Ia kembali dengan dua buah kelapa. Tapi kelapa yang dibawanya tidak sehijau bawaan kelima santri itu.

"Gek-gek klopo (Jangan-jangan kelapa)!" tebaknya terkekeh. Saya pun ikut tertawa. Lucu aja kalau sudah bersusah payah memanjat pohon kelapa, bukan degan tapi kelapa matang yang didapat. Memangnya mau bikin serundeng. "Nek klopo, iso-iso kreminen kowe dab (Kalau kelapa, feses lu bisa ada cacingnya dab)," ada-ada saja. 😂

Rio membawa pisau militer. Sayangnya belum sempat diasah. Dan untuk mengasah pisau seperti ini, setidaknya butuh batu kali, dan kebanyakan bebatuan di pantai ini adalah batu kapur yang mudah hancur. Tentu saja saya yang tidak enakan ini ingin membantu, tapi apa ya. 😅

Rio berusaha menyenangkan saya sebagai 'orang kota'

Dari luar, kelapa sudah menguning, lumayan jadi camilan petang

"Aku gur nyenengke wong kutho tok kok (Gue cuma nyenengin orang kota aja kok)," Rio memanyunkan bibir. Memang benar-benar sahabat sejati dia yang satu ini. Saya terharu.

Anak santri sebelah meminjamkan Rio senjata sejenis golok dengan ujung melengkung, entah apa namanya. Dibacoknya kulit kelapa tiga kali, dan air kelapa mengucur deras. Saya lekas mengambil gelas logam dari tenda, menadahi setiap tetes yang ada. 

Sluruuuup...

"Sueger tenan Jo! Jajalen (Seger banget Jo! Cobain dah)!" enak. Untung kelapanya belum tua.

***

Jogja - Pacitan dan Penyekatan

Rio masih sibuk mengemasi barang-barang kami. Tas punggung 90L Forester miliknya kini memuat banyak barang dari tenda, matras, peralatan makan, bahan dan peralatan masak, hingga beberapa potong pakaian. Ia telaten dalam menyusun semua barang itu dalam satu tempat, "Sing abot disusun nempel punggung men ora kabotan le nggowo (Yang berat disusun nempel punggung biar nggak keberatan pas dibawa)." Saya hanya bisa mengangguk sambil mengingat-ingat bagaimana dulu saya menyusun barang bawaan kemping sebelum naik gunung: mesti payah.

Lreeet...

Barang sudah dipak. Kami bergegas memanaskan motor dan menuju Pacitan.

Untuk mencapai Pacitan, perjalanan akan memakan waktu 4 hingga 5 jam. Selain jarak yang jauh (117 km), kami akan melewati 5 daerah administratif dengan Kabupaten Gunungkidul yang paling luas. Kabupaten terluas di provinsi DIY ini tentu akan mempengaruhi kondisi psikis kami sepanjang perjalanan, dimana kami merasa perjalanan terasa lambat karena tidak kunjung mencapai perbatasan.

Dan benar, itu yang saat ini saya rasakan.

Lanskap perbukitan Pegunungan Sewu dengan perkebunan jagung

"Sik Io, aku meh peregangan bokong sik. Tepos je (Bentar Rio, gue mau peregangan dulu. Gue nggak punya pantat je)," saya turun dari motor. Rasanya sempak saya berhasil mengukir relief di pantat burik saya. Rio lekas memperbaiki posisi tas di pijakan kaki. Saya membuka Google Cam, mengarahkan lensa pada hamparan perkebunan jagung berlatar Pegunungan Sewu. Indah sekali. Sejauh pandangan mata, perbukitan terhampar hijau. Topografi Gunungkidul, Wonogiri, hingga Pacitan memang berbukit-bukit begini. Maka wajar bila pasukan Jenderal Soedirman berhasil bergerilya sebelum akhirnya kalah karena sakit bila medannya begini.

Perjalanan berlanjut. Kami tidak lagi melewati Jalan Nasional 3 guna memangkas waktu perjalanan. Jalan Semanu - Praci awalnya berstatus Jalan Nasional. Namun jalan akses menuju Museum Kars Indonesia ini terlalu curam dan ekstrem untuk bisa dilalui kendaraan besar sehingga turun status menjadi Jalan Provinsi. Akhir dari ruas ini ditandai dengan lampu APILL Simpang Pracimantoro, kota kecil di Wonogiri selatan.

Dari Praci, kami melewati Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) hingga Simpang Giritontro. Dari perempatan ini, untuk menuju Pacitan bisa melewati jalan ke arah selatan atau timur. Tentu kami memilih rute terpendek. Dan dari desa inilah —kalau kata Rio— pemandangan khas Nusa Tenggara terhampar. Perbukitan kapur berjarak sangat dekat. Pepohonan jati mulai gugur mengering karena musim kemarau, tipikal khas hutan musim yang tidak selalu basah. Jalan akses menuju Pacitan ini membelah bukit-bukit kapur, naik-turun bagai rollercoaster, seru dan tidak membosankan. Beberapa satwa langka seperti ayam hutan dan kera Jawa terlihat beberapa kali melintas jalan.

Pegunungan Sewu membentang dari Gunungkidul hingga Wonogiri

Ekspektasi berada di Nusa Tenggara

Tak lama, kami segera tiba di tapal batas antar provinsi. Beberapa warga lokal berkumpul di pinggir jalan, mencoba menghentikan laju para pengendara, khususnya motor.

"Mas nanti di depan ada pos penjagaan karang taruna, ada dua pos. Diminta putar balik. Kalau mau nanti warga antar lewat jalan dalam," terangnya. Tatapan matanya tampak penuh harap, tentu saja saya tahu ini pungutan liar. Saya dan Rio pun memutuskan untuk mencoba menembus tapal batas dulu. Kalau gagal, "Nggari lewat dalan njero. Santai. Maps-ku offline og (Tinggal cari jalan dalam. Santai aja, Google Maps gue udah luring kok)."

Saya sengaja merekam perjalanan menuju tapal batas. Beberapa kerumunan warga terlihat di kiri-kanan jalan. Sisanya, ada yang menunggu di gapura atau jalan akses menuju kampung masing-masing. Sepertinya warga siap siaga 'membantu' para pelintas melewati jalan dalam.

Benar, ada cegatan setelah gapura tapal batas. Tenda khas posko lebaran dan water barrier diletakkan melintangi jalan. Beberapa aparat gabungan dari babinsa, tentara, dan polisi menghalau pelintas. Di depan kami, rombongan pelat AD dicegat. Apalagi saya yang pelat AA.

"Selamat siang mas, maaf mengganggu waktunya. Datang darimana dan ada keperluan apa ya?"

"Datang dari Jogja pak, mau ngecamp di pantai," jawab Rio, jujur.

"Mau ngecamp di mana?"

"Pantai Pangasan pak."

"Owalah Pangasan. Maaf ya mas sampeyan pelat luar kota ada surat rapid test tidak?" tentu saja kami tidak punya. Buat apa kami yang melaksanakan anjuran Pemerintah Pusat untuk berwisata, perlu ambil rapid test segala. Mana jelang lebaran Kapolri sudah minta maaf telah membuat penyekatan, tapi kok masih ada penyekatan di lapangan?

Pos penyekatan dijaga oleh aparat gabungan


"Kalau gitu silakan putar balik ya mas. Atau gunakan jasa warga lewat jalan dalam, tadi ada yang awe-awe kan?"

Pernyataan terakhir sang bapak tentara membuat saya kaget. Rupanya adanya penyekatan di batas provinsi ini sengaja dibisniskan. Aparat gabungan menghalau pengendara melewati tapal batas namun mengarahkannya pada warga supaya lewat jalan perkampungan. Kalau memang tujuannya murni menyekat pelancong, harusnya lewat jalan dalam juga dilarang. Ini malah diarahkan.

Ya sudah, kami berputar arah. Saya segera buka Maps dan melewati rute memutar. Benar, di gapura kampung sudah ada warga bersiaga dengan kardus terbuka. Para pengendara diminta membayar sekenanya. Karena kami mengekor rombongan pelat AD tadi, kami lolos pos pungutan liar.

Di jalan kampung, seperti dugaan saya Google Maps tidak akurat. Sistem Google Maps untuk menggambar rute jalan memang didasarkan pada frekuensi lalu lintas GPS di suatu wilayah. Alhasil kalau ada jalan di Maps tidak sesuai di medan nyata, tinggal pakai logika saja. Saya bisanya memakai patokan bangunan umum (seperti masjid) atau gambar yang tertangkap citra satelit.

Bersama rombongan lain menembus jalan dalam

Rombongan pelat AD di depan berhenti. Mereka tidak diarahkan warga sekitar ternyata. Ya sudah, kami lepas rombongan. "Bali arah Io, iki nututi tanda-tanda bangunan wae (Putar arah dong, kita ngikutin patokan bangunan aja)," motor berputar. Kami makin dalam menembus perkampungan. Jalan semen dengan ruang tengah bebatuan ini menanjak curam. Sesekali ban belakang selip karena lumut jalan. Kami menemui persimpangan dengan masjid di salah satu sudutnya. Karena sudah membaca peta, saya hanya perlu menerka mana arah timur. Di ponsel, titik biru posisi saya tidak lagi berada di jalan, bergeser jauh di atas citra perkebunan. Gapapa, asal arah timur tetap gas. 

Di dalam jalan kampung, masih ada beberapa pos penjagaan warga dengan kardus minta donasi. Kami abaikan. Dari arah berlawan, ada pula kendaraan pelat AE yang lewat jalan dalam. Titik biru kembali ke jalan benar, kami ke selatan. Dan beres, satu pos penyekatan kami lewati.

Jalan menanjak dan menurun curam adalah ciri khas Pacitan

Kota teluk Pacitan terlihat dari ketinggian

***

Saya menghela nafas sejenak begitu kota teluk Pacitan terlihat di ujung pandangan. Sangat cerah, cuaca sangat bersahabat. Rasanya tidak sabar untuk merelaksasi diri di pantai. Jalanan menurun ekstrem dengan tikungan tajam membuat kami harus ekstra hati-hati. Jalanan seperti ini umum di Pacitan kecuali wilayah kota. Letak kota yang berada di dalam teluk pinggir laut dengan banyak sungai berhilir membuat Pacitan kerap dilanda banjir besar.

"Bukit Bintang-e Pacitan Jo," tawa Rio terkekeh sembari menahan beban tubuh saya dari belakang. Tarikan rem harus kuat, dan semoga saja kampas rem saya masih aman hingga nanti pulang.

***

Sengkedan persawahan hijau menyegarkan pandangan. Sorot mentari tengah hari sangat terik, namun hijaunya lanskap Pacitan yang masih asri dengan hutan menyejukkan hati. "Nek iki wis koyo Ubud Jo (Sudah mirip Ubud Jo)," mungkin Rio pernah ke sana. Saya sendiri belum pernah menjelajahi Bali sebelumnya.

Jalan makin menyempit. Tampaknya akses menuju Pantai Pangasan memang belum tersentuh anggaran pemerintah. Jalan sempit dan rusak parah, berkerikil hingga bergelombang, sesekali berpagar jurang di ketinggian. Warung jarang, apalagi bensin eceran, jadi memang benar sewaktu di kota kami isi penuh tangki sebelum melanjutkan perjalanan.

Ubud-nya Pacitan ada di sepanjang jalan akses ke pantai

Tidak ada SPBU atau bensin pengecer setelah keluar dari kota, maka kami perlu memperhitungkan bahan bakar

Pantai Pangasan tampak dari kejauhan

Tiga puluh menit perjalanan, kami tiba di pos pemungutan retribusi. Masing-masing kepala harus membayar Rp. 5.000,- saja. Rupanya per 11 Mei kemarin sudah ada peresmian Pantai Pangasan sebagai objek wisata yang dikelola desa. Kondisinya masih sangat sederhana, tapi okelah. Semoga taraf kesejahteraan warga terbangun.

Dari tempat parkir, pengunjung masih harus berjalan sejauh 200 meter untuk mencapai teluk

Ini adalah kali kedua Rio menyambangi pantai ini

Ada sumber mata air yang kami jadikan sumber minum juga

Pantai Pangasan sisi barat ditandai dengan tebing tinggi yang mungkin dulu ada di dasar laut

Terasering sawah di Pantai Pangasan

Perburuan Bintang, Gagal

"Lima, empat, tiga, dua satu..."

Cekrek. Kecerdasan buatan butuh lima detik untuk memproses gambar yang diambil selama 5 menit. Saya pun bosan sewaktu menunggu proses pengambilan gambar, karena harus melindungi tripod dari kencangnya hembusan angin malam. Di sudut lain, Rio sedang sibuk dengan ponselnya. Meski hanya H+, jaringan Telkomsel memang yang berhasil menjangkau pantai tebing ini. XL saya hanya mampu sampai desa terujung di atas sebelum turun ke pantai.  

Malam pekat. Dengan perlahan mata saya dapat beradaptasi dengan gelapnya malam. Di tengah laut, enam cahaya putih beresonansi dengan gelombang laut. Ya, mereka para nelayan yang sedang sibuk entah memancing atau menjala ikan. 

Hasil potret pada petang hari, masih banyak buram (noise) karena teknologi ponsel belum terlalu maju untuk astrophotography

Sorot cahaya di kiri foto ini berasal dari perahu nelayan

Di sela-sela pemotretan, saya menerka rasi bintang dan galaksi dengan mata telanjang. Beruntung tadi di kota saya sempat unduh aplikasi Google SkyMaps dan Stellarium. Khususnya Stellarium, aplikasi ini membantu saya dalam memahami astrologi yang berkembang dalam peradaban manusia. Bagaimana manusia menjelajahi Dunia dengan menggunakan bintang sebagai pedoman navigasi. Atau membuat kepercayaan atas hasrat jati diri yang lemah serta percaya akan adanya kekuatan yang mencipta Dunia. Bulu kuduk saya berulang kali berdiri begitu kagum kalau saya hanya satu dari giga triliun hal di Dunia. Apa yang saya alami tidak akan berdampak apapun pada semesta.

Melihat posisi bintang dan rasi melalui aplikasi

"Hadeh jelek, coba lagi deh," saya kembali menekan tombol rana dengan indikator biru berkelip itu. Lagi-lagi lima menit waktu saya terbuang untuk menjaga tripod agar tetap stabil. Setidaknya masih ada sisa degan tadi petang yang kini terasa semriwing di kerongkongan.


Bulan pada malam ini

"Piye Jo? Iso ra? (Gimana Jo? Bisa nggak?)"

"Iso raiso, pokokmen bariki madhang (Bisa nggak bisa habis ini makan malam)!"

Dan benar, lagi-lagi jepretan saya gagal. Ya sudahlah.

Rio menyiapkan kompor. Untuk kemping selama semalam ini, Ia mengisi ulang kedua tabung gasnya. Seingat saya, isi ulang gas portabel di Jogja berkisar 6 hingga 8 ribu per kaleng.

Angin malam terus berhembus kencang. Kami memasak dengan berlindung di balik tegalan. Kompor menyala, api biru menghangatkan pannikin dengan segera. Air mendidih, saya mendapat giliran untuk memasak mi instan. "Nek aku gampang wong mi kuah. Ngko duduhmu tak nggone kene (Kalo gue gampang kan mi kuah. Nanti kuah lu gue pake sini)," Rio mengisap vape rasa brownis itu. Dari banyak varian yang Ia coba, brownis paling nagih buatnya. Wanginya harum juga.

Supaya cepat mendidih, panci bawah dijadikan tutup

Kadang saya suka heran dengan orang yang bisa masak makanan berat lengkap (bukan instan) sewaktu berkelana

Mi kami berdua sudah jadi. Di bawah langit temaram, suasana tenang pukul delapan malam, kami menikmati kudapan ini. Ya memang sederhana dan praktis, namun tetap mengenyangkan.

"Piye Jo, meh hunting foto meneh ra (Gimana Jo, mau berburu foto lagi nggak)?"

Usai enam kali pemotretan langit dan gagal mendapat hasil yang memuaskan, mungkin tunggu tengah malam nanti, "Mengko bengi wae paling. Jam 12 tak tangi njuk jajal motret. Nek gagal yawis tinggal turu haha (Nanti malam paling sekitar jam 12 gue coba. Kalo gagal yaudah tinggal tidur)."

Saya bergegas masuk ke dalam tenda dengan matras lemas itu. Meski tenda ini dua pintu, hanya satu yang dibuka. Saya tidur di ujung.

"Kowe ra ameh turu barang po (Elu nggak pengen tidur juga emang)?" Saya tahu Rio adalah pribadi yang enerjik. Tidur terlalu awal seperti ini buat apa. "Ora, aku meh menikmati malam sik wae," pungkasnya sambil menggantung power bank di tengah tenda.

Okelah. Selamat malam semesta! Tak sabar kutangkap ronamu dengan lukisan cahaya.

Di luar, angin berhembus kencang: kehangatan hanya di dalam tenda

***

Puk, puk.

"Jo, ra arek moto bintang? (Jo, nggak jadi motret bintang?)" sahut Rio menepuk pundak. Lah dia udah tetiduran rupanya.

"Ah, cuacane apik po? (Ah, cuacanya emang bagus?)" Saya masih malas dan mengulat. Duh. Dalam sekejap saya memasang ponsel pada tripod, membuka resleting pintu tenda. Tengah malam rupanya tidak ada angin berhembus. Okelah.

Ponsel beralih dari mode auto ke mode bintang. Siap, 5 menit waktu saya kembali terbuang untuk bertopang dagu sembari terpejam rebahan. Rio pun mulai tidur dengan menekuk lutut.

Cekrek!

Ponsel selesai menangkap gambar. Saya mencoba melek dengan mata pegal menatap layar ponsel ber-nits rendah. Oh sumpah, jepretan malam ini tidak menghasilkan apapun selain potret gelap berbutir kasar. 'Ini mah bukan bintang,' saya menghela nafas. Ah sudahlah, tinggal tidur saja.

Hasil potret pada tengah malam ketika cuaca juga tidak bersahabat

Jutaan bintang malam itu bersinar terang. Sayangnya, ponsel saya sama sekali tidak mendukung cita-cita perburuan bintang. Selamat tinggal!

***

Tentang Laut

Masih subuh, saya menatap dalam ke arah lautan. Kalau tidak dibangunkan anak-anak santri tenda sebelah itu, mungkin saya tetap memilih mengulat di dalam tenda, bersama Rio yang mungkin baru tidur tiga jam sebelumnya. Saya menatap jam, sudah 7 jam waktu saya lalui untuk tidur, "Tidur lelap." Tidak yakin status ini akurat karena beberapa kali saya terbangun oleh matras yang tidak membantu membuat potongan rerumputan itu melunak. Sakit punggung mungkin kata yang tepat untuk saat ini.

"Lah kok tangi? Raiso turu meneh po mergo keganggu wong nyilih kompor?"

"Ora, aku ncen biasane yah mene wis tangi og," saya rasa Rio masih kantuk. Kalau saya di posisi dia, rasanya puyeng setengah mati kekurangan tidur seperti itu.

"Sisih kono yo iso dibuka og Jo. Buka'en." Itung-itung sirkulasi udara buat tenda yang hangat.

Keluar tenda, kami peregangan sejenak. Berselimut sarung hitam polos, saya duduk bersila menghadap samudera. Dingin juga pagi hari ini. Salah satu santri mendatangi kami dengan membawa semangka kuning dan segelas kopi. Well, orang dengan lambung lemah dan kurang suka buah seperti saya akan menghindari keduanya.

"Wah mayan iki (Wah lumayan ini)," Rio segera mengambil pisau militer yang Ia bawa. Pisau itu masih tumpul dan Ia tampak bersusah payah menyingkirkan sabut kelapa. Masih pagi dan keringat mengucur bebas.

Crok. Cresss...

Air kelapa mengucur dari lubang.

"Wah nek iki isih degan dab!" Rio bersemangat. "Fotokke aku dab, meh tak glogok wae degane," berlatar tebing sisi barat, Ia menegakkan kepala, menumpahkan air kelapa muda itu ke mulutnya. Mesti segar rasanya! Air kelapa sisanya dituang ke gelas logam untuk diminum berdua. Kelapa dibelah, dagingnya masih sangat tipis dan lunak.

Ada semangka kuning, segera Ia belah. Dengan sendok, daging buah ia cacah. Kami berdua sibuk menyerok kelapa. Rasanya kami berdua benar-benar mirip karakter dalam gim The Sims Castaway yang terdampar di antah berantah dengan segala makanan langsung dari alam. Sepertinya besok-besok saya memang harus mengembangkan life skill misal bila beneran terdampar deh. 😅

Pagi hari udaranya dingin, sayang cuacanya mendung

Rio menikmati kopi pagi sedang saya bermeditasi

"Glogok wae dab!"

Sarapan pagi dengan semangka kuning dan kelapa muda

Sarapan sehat check!

Pukul 07:00 pagi, di atas terasering sudah ada beberapa tamu yang datang pagi. Sayang sekali, cuaca pagi hari ini mendung dari segala penjuru. Pantas saja semalam saya susah memotret langit bertabur bintang, selain karena ponsel yang payah. Para pengunjung tentu mengambil potret diri mereka di dekat sumber mata air. Dari titik itu, pemandangan hijaunya sengkedan sawah menjadi momen yang paling terkenang.

Tidak banyak aktivitas yang kami lakukan pagi ini selain menghayati alam. Saya sibuk rebahan bersama speaker dan ponsel Rio yang terus-menerus memutar lagu lawas, sedang Ia sibuk merekam dengan ponsel saya. Tampaknya aneh kalau memutar musik hip hop apalagi K-Pop di sini.

Memandang batu lemon yang mungkin akan habis tergerus dalam 3 bulan, saya baru ingat kalau hari ini hari Selasa (18/5). Kalau tidak diminta untuk meliburkan diri (unpaid leave), mungkin saya sedang duduk bosan memandangi layar laptop di kosan. Mengerjakan tugas demi tugas kantor yang lama-lama bikin saya jenuh. Beruntung Rio mengabulkan keinginan saya untuk ke Pacitan, dan selama berkelana, Ia yang sibuk mengendarai, sampai mendirikan tenda. UwU sekali. Meski hanya dua hari, tapi hari ini cukup untuk menyegarkan otak saya dari bosannya rutinitas harian, di tengah pandemi yang tak berkesudahan.

Selamat pagi dari Pantai Pangasan

Memasak mi instan dan sarden

"Io, masak yok," Rio sedang menghisap vape di atas batu.

Pagi ini kami kembali memasak mi instan, plus sarden. Saya tidak kepikiran untuk bawa makanan kalengan seperti ini, apalagi tadi tenda sebelah memberi kami 10 potong nugget ayam, "Nek nggowo makanan beku samar ndak basi ning ndalan dap (Kalau bawa panganan beku takut basi gue)."

***

Rombongan para santri berkemas

Tebing besar di sisi timur dan barat pantai tampaknya tidak bisa diakses siapa pun

Foto ini mengingatkan saya pada wallpaper gim Far Cry

Batu lemon

Satu jam lagi, kami pulang. Rio sudah mengemasi tenda, membersihkannya dengan membalik tenda bak pemain reog Ponorogo, melipatnya dengan kehati-hatian. Angin pantai kembali berhembus. Entah di waktu-waktu terakhir ini saya justru malas beranjak. Foto-foto sudah terarsip rapih di ponsel, namun tidak dengan sensasi selama berada di pantai ini.

Kembali ke Jogja yang notabene adalah kota, menghadapi kemacetan setiap waktu di Condongcatur, terasa seperti kembali terjebak pada kehidupan membosankan masyarakat urban. Tapi mau bagaimana lagi, Pacitan dengan slogannya 'Paradise of Java' mungkin tidak bisa dijabarkan secara harfiah sebagai surganya Jawa. Namun setiap kali kemari, saya mendadak lupa dengan masalah yang sedang dihadapi. Melepas penat memang perlu, dan Pacitan selalu punya tempat yang tepat.

***

Bonus: JJLS

Sewaktu pulang dari Pacitan, kami melewati beberapa jalan berbeda. Dan berkelana bukan soal menghabiskan waktu di tujuan, namun bagaimana kita menikmati perjalanan. JJLS yang menghubungkan kota-kota keci di selatan semakin terbangun. Dan kami tidak ingin menyia-nyiakan perjalanan tanpa berfoto dengan latar pemandangan hutan musim Jawa selatan.

Selamat tinggal Pacitan, sampai berjumpa lagi

Rute pulang dari Pacitan, kami sengaja melewati Jalan Nasional menembus hutan, asik bisa untuk balapan

Jalan Lintas Selatan Wonogiri nan gersang mengingatkan Rio pada Nusa Tenggara

Suasana JJLS mirip di luar negeri

JJLS dibuat membentang sepanjang lintas selatan Jawa

Hitchhiker ceritanya
Cuma seorang pejalan yang gemar memaknai hubungan sosial.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.