![]() |
Saya masih tidak menyangka kalau seporsi soto garing (toring) barusan hanya dihargai Rp. 5.000,- saja. Selain rasanya enak meski awalnya rada asing di lidah, rupanya kuliner di area perbatasan Klaten - Boyolali ini tidak begitu aneh. Toring pada dasarnya hanya soto tanpa kuah namun tetap ditaburi dengan pelengkap soto: bawang goreng, selada, bumbu kuning, tomat, tauge. Satu hal yang membuatnya berbeda, ada timun sebagai lalapan. Suwiran ayam tetap terasa enak seperti biasa. Sebagai pembanding, saya juga beli soto ayam biasa. Beberapa pesepeda gunung mampir di warung yang letaknya jauh dari jalan utama ini.
![]() |
Seporsi soto garing dan soto kuah, bersanding menggoyang lidah |
***
Selesai sarapan, saya segera menyambangi tujuan saya. Hari ini saya berperan sebagai inspektur yang mengecek kelajuan pembangunan jalur kereta api lintas tengah Jawa Tengah. Saya memang sedang membicarakan progres reaktivasi jalur kereta api segmen Kedungjati - Secang - Yogyakarta.
Jalur ini konon telah direncanakan untuk diaktifkan kembali sejak 2008. Semenjak wacana tersebut bergulir, pro-kontra muncul di kalangan masyarakat. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran jalur mati, tentu menolak. Saya sendiri mendukung penuh karena sebagai warga Magelang, kami butuh opsi alternatif untuk bisa bepergian antar daerah. Selama ini hanya ada layanan ban karet saja untuk bermigrasi.
![]() |
Salatiga benar-benar teduh dan nyaman |
Saya tiba di Salatiga. Kota yang mendapat predikat Kota Paling Toleran di Indonesia versi Setara Institute ini memiliki atmosfer serupa Kota Magelang. Kotanya kecil, dengan ruas jalan yang tidak lebar namun teduh. Jalanannya pun pendek-pendek dan banyak persimpangan. Kondisi ini menyiratkan bahwa Pemerintah Kolonial dulu telah merancang Salatiga sebagai walkable city. Setiap fasilitas kota bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki atau bersepeda. Saking sempitnya median jalan, saya yakin perparkiran adalah masalah besar di kota yang menjadikan sektor perdagangan sebagai tulang punggung perekonomiannya.
Di Salatiga, alun-alunnya jauh lebih menyenangkan dari Magelang. Ada jalur sepeda, teduh, dan terlebih lagi semua tempat ibadah ada di kota ini. Wajar saja kalau pada akhirnya masyarakat memiliki tenggang rasa dengan mereka yang berbeda kepercayaan. Tata kotanya saja telah merepresentasikan hal ini.
Tidak lama saya di Salatiga meski baru pertama kali singgah. Dari kota ini, saya bergegas mengikuti peta Google Maps yang sudah dibuat luring menuju Kedungjati, kota kecamatan di wilayah Kab. Grobogan. Di kota kecil ini, saya akan mengulik alasan kenapa reaktivasi berhenti, atau bisa disebut mangkrak.
***
Stasiun Kedungjati, Anggun tur Migunani
Pintu dengan pagar besi-besi rel ini tertutup. Saat saya tiba, sebuah lori motor memasuki jalur 1 Stasiun Kedungjati. Andai saja tiba beberapa menit sebelumnya, mungkin saya bisa merekam momen lucu ini. Meski hanya single track, perlintasan di sisi timur laut stasiun ini sebenarnya memiliki dua jalur utama. Salah satunya sudah mati tertimbun bangunan kios.
Saya mengitari stasiun yang notabene benar-benar terbuka ini. Di sisi utara, terdapat beberapa rumah dengan corak bangunan khas kolonial yang tidak terawat. Kondisinya sangat miris, cocok buat syuting film horor. Dari kejauhan, terlihat anak-anak sedang asyik bermain-main di emplasemen stasiun. Tentu saja stasiun yang tidak memiliki penumpang pasti di waktu pandemi ini bebas diakses anak-anak warga sekitar. Mungkin saya bisa masuk ke bangunan utama stasiun.
Untuk mencapai bangunan stasiun, saya mengitari jalan setapak kampung. Percabangan rel kereta ke arah Tuntang sudah dipasang beberapa, namun proyek ini mangkrak entah mengapa. Debu-debu putih dari pelapukan batuan kapur beterbangan begitu saya melintas. Kini saya parkir di sisi barat daya stasiun.
![]() |
Percabangan baru menuju ke arah Magelang dan Yogyakarta |
![]() |
Stasiun Kedungjati terletak di kota kecamatan Kedungjati, Kab. Purwodadi |
![]() |
Untuk memasuki area Stasiun Kedungjati, saya memutari pintu masuk utama |
Sejenak, bangunan stasiun yang sebagian besar masih mempertahankan arsitektur aslinya membuat saya terkesima. Rangka-rangka besi yang sudah reot itu tetap eksis hingga satu abad. Bata-bata merah disusun rapih, ada yang diaci, dengan bagian penyokong yang dibiarkan terbuka. Sekilas lantainya mengingatkan saya pada stasiun-stasiun yang tetap mempertahankan arsitektur kuno-nya: Semarang Tawang, Kota Jakarta. Bedanya, Kedungjati adalah versi lite-nya.
Anak-anak warga sekitar bermain-main di peron jalur 3 dan 4. Saya pikir stasiun yang aktif menaik-turunkan penumpang cenderung dibuat steril, eksklusif dan berpagar pada umumnya. Berhubung PPKM sedang berlangsung, tingkat okupansi kursi kereta api menurun drastis. Belum lagi Stasiun Kedungjati hanya menaik-turunkan penumpang dari 3 kereta saja—berdasarkan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2021.
![]() |
Stasiun Kedungjati tampak anggun dengan mempertahankan arsitektur asli Hindia Belanda |
![]() |
Kelak lokasi ini akan jadi tempat saya melangsungkan foto pra-nikah |
Beberapa petugas stasiun sedang asik berbincang dengan petugas yang baru pulang dengan lori tadi. Salah satu petugas saya tanyai, mengapa proyek reaktivasi terhenti? Jawaban beliau cukup tanggung, "Anggarannya ditarik kali mas." Tampaknya beliau juga tidak paham betul mengapa reakvitasi mangkrak.
![]() |
Pandangan ke arah tenggara (Solo) Stasiun Kedungjati dari jalur non-aktif |
![]() |
Stasiun Kedungjati tampak anggun dan klasik |
***
Ambarawa - Kedungjati: Bukti Reaktivasi Setengah Hati
Selesai berfoto-foto di emplasemen stasiun, saya beranjak pergi. Meski sudah berusia satu abad, Stasiun Kedungjati benar-benar tampak kokoh dan anggun. Stasiun ini pula menjadi saksi dimana Magelang Raya dulu pernah punya jaringan kereta api.
Saya kembali ke arah Magelang, mengikuti percabangan jalur kereta menuju Tuntang. Sepanjang perjalanan, saya benar-benar mengikuti jalur lama. Jalanan bergelombang hebat dengan bebatuan kerikil lepas tidak menggoyahkan niat saya untuk tiba di stasiun berikutnya lewat jalur kereta.
![]() |
Ditemukan rel di area permukiman barat daya stasiun, kemungkinan area emplasemen Stasiun Kedungjati lebih luas dari yang saat ini |
![]() |
Patok biru dan kuning berlogo Ditjen Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan terpasang di sepanjang rute |
Sembari berdendang dengan alunan musik Spotify di telinga, saya berfantasi ria jikalau jalur ini selesai direaktivasi. Tentu saja orang Magelang punya opsi alternatif moda transportasi untuk ke luar daerah. Apalagi lintasan ini menghubungkan Jogja dan Semarang.
Fantasi saya terhenti sejenak begitu melihat tumpukan bantalan rel dari beton serta tumpukan batang rel kereta teronggok begitu saja di sisi lintasan. Sial, kalau barang-barang kebutuhan reaktivasi sudah tersedia, lantas apa yang membuat reaktivasi ini tertunda? Pemangkasan anggaran secara tiba-tiba? Pemprov Jateng lebih mendukung adanya tol Bawen - Jogja?
![]() |
Banyak material sudah ditumpuk di sisi jalur kereta, siap untuk dipasang |
![]() |
Kondisi jalanan berbukit membuat rel kereta harus dibuat berkelok-kelok |
![]() |
Melewati jalan perkampungan untuk melihat bagaimana kondisi jalur kereta saat ini |
Jalur kereta habis, motor saya tidak bisa melewati hamparan rerumputan lebat di depan. Segera motor berbelok ke arah jalanan kampung. Kali ini saya mengikuti Jalan Tuntang - Kedungjati sembari menerka-nerka di titi mana jalan dan rel saling memotong.
Jalur kereta api dari Kedungjati ke Ambarawa memang melewati kawasan perbukitan. Jalur kereta yang dibuat berbelok mengikuti kontur adalah buktinya. Di beberapa bagian, rel bersilang dengan jalan raya yang sudah dibikin jembatan atau parit beton. Tampaknya baru, dan mungkin saja hasil pekerjaan 2014 lalu.
![]() |
Tumpukan material bantalan rel kereta di dekat Stasiun Gogodalem |
![]() |
Jembatan kereta melintang di Kali Tuntang telah lama rubuh. Kali ini membatasi daerah administratif Kabupaten Semarang dan Kabupaten Purwodadi |
Jalanan menanjak curam dan menukik tajam membelah perkebunan karet. Komoditas utama di daerah perbukitan kapur ini memang perkebunan. Inilah alasan utama mengapa Hindia Belanda membangun rel kereta ke arah Magelang. Selain untuk mengangkut para prajurit kolonial, angkutan perkebunan diutamakan. Maka wajar jika banyak stasiun yang berdiri di sepanjang lintasan. Dari Kedungjati ke arah Ambarawa, ada halte dan stasiun Ngombak, Tempuran, Gogodalem, Beringin, Tlogo, dan Tuntang. Dari kedelapan halte dan stasiun tersebut, hanya Kedungjati, Ambarawa, dan Tuntang saja yang kondisi bangunannya masih baik. Stasiun Beringin sangat memperihatinkan meski bisa direstorasi. Dan halte-halte lainnya sudah tidak lagi berwujud.
![]() |
Salah satu terowongan kereta tak jauh sebelum Stasiun Beringin |
![]() |
Stasiun Beringin tampak memperihatinkan |
Setengah jam berkendara (dan sering berhenti), saya tiba di Beringin. Kota kecamatan ini cukup ramai dengan aktivitas perniagaan. Jalan utamanya sedang dicor beton, mungkin memang sudah langganan rusak sebelumnya. Lalu lintas macet di kedua arah.
Di sisi kiri jalan, sebuah area ditutupi pagar seng tinggi. Benar dugaan saya, bangunan Stasiun Beringin sudah terlihat setengah hancur dari celah pagar. Area emplasemen stasiun masih cukup luas untuk parkir 2-3 rangkaian kereta. Meski begitu, masih sangat bisa untuk dikembalikan seperti sedia kala, tentu dengan anggaran yang luar biasa.
![]() |
Hilir-mudik masyarakat melewati terowongan jalur kereta di Tuntang |
![]() |
Sedimentasi berlebih membuat rumput tumbuh subur di sepanjang calon lintasan, Desa Tlogo, Tuntang |
![]() |
Warga memanfaatkan jalur yang tergenang sebagai tambak |
Dari Stasiun Beringin saya melanjutkan pemantauan ke arah Tuntang. Jalur kereta kembali berkelok di beberapa titik. Di beberapa persilangan, sudah dibangun beton yang membuat jalan atau rel kereta melayang sehingga mengurangi perlintasan. Di Desa Tlogo, Tuntang, kondisi jalur kereta sangat memperihatinkan. Buruknya drainase membuat air menggenang di cekungan rel kereta sehingga warga setempat memanfaatkannya sebagai tambak.
Setelah melewati Desa Tlogo, jalur kereta bersisian dengan Jalan Tol Semarang - Solo. Kemiringan di daerah ini relatif ekstrem sehingga jalur berkelok mengikuti kontur Kali Tuntang, membelah kebun singkong warga.
![]() |
Jembatan jalan tol Tuntang membentang di atas rel kereta |
![]() |
Kalau Pemerintah Pusat berani menggelontorkan dana banyak untuk jalan tol, mengapa tidak dengan reaktivasi kereta api. Jawabannya, kurang profit |
Mendekati Tuntang, rel kereta hanya lurus terus hingga Ambarawa. Di atas rel kereta, jembatan jalan tol membentang di ketinggian 100 meteran di atas kepala. Wow, luar biasa besar. Di bantaran kali, para pemancing sedang duduk tenang sembari mengisap lintingan mereka. Beberapa ekskavator teronggok di pinggiran bendungan, siaga untuk mengangkut eceng gondok yang mengancam ekosistem dalam sungai.
Dan tibalah saya di Stasiun Tuntang. Stasiun ini masih saja anggun meski hanya beroperasi untuk keperluan pariwisata saja. Kereta lokomotif uap memang masih dioperasikan pada ruas Tuntang - Ambarawa - Bedono. Terutama pada petak Ambarawa - Bedono, dibutuhkan lokomotif gerigi karena gradien perbukitan yang curam. Sayangnya saya belum sempat melihat kereta uap secara langsung.
***
![]() |
Stasiun Tuntang masih aktif dengan area emplasemen yang dijaga ketat |
![]() |
Rel kereta bersisian dengan Kali Tuntang |
Konklusi
Reaktivasi rel kereta api lagi-lagi tetap bergantung pada political will Pemerintah Jawa Tengah. Meski Pemprov pernah menyatakan untuk mendukung mereaktivasi jalur-jalur kereta non-aktif di Jawa Tengah, nyatanya pernyataan tersebut masih sebatas lip service belaka. Hingga detik ini, belum ada progres berarti untuk rencana reaktivasi Kedungjati - Secang yang bahkan sudah mencuat sejak 2008 lalu. Progres memang pernah benar-benar berjalan pada 2013 - 2014 lalu. Namun dengan alasan pembatalan reaktivasi yang belum jelas, proyek ini bisa dibilang mangkrak.
Untuk jalan tol saja Pemerintah Pusat berani membelah bukit dan membangun jembatan yang sangat tinggi. Bagaimana dengan sarana perkeretaapian? Mungkin karena tidak banyak hal yang bisa dibisniskan dari kereta api, sehingga reaktivasi Ambarawa - Kedungjati diputuskan berhenti. Sayang sekali. Padahal jalur sudah jelas dan kendala reaktivasi kereta lintas Kedungjati - Yogyakarta berada di Magelang Raya, yang mana jalur sudah banyak beralih fungsi jadi bangunan warga. Kalau memang ada komitmen, seharusnya lintas Kedungjati - Ambarawa sudah aktif sejak 7 tahun lalu. Tapi apadaya...