![]() |
iPad Pro M2 2022 256GB |
Entah apa yang saya pikirkan waktu itu tiba-tiba memantapkan diri untuk membeli tablet pabrikan buah ini. Pada awalnya saya pikir piranti baru dapat meningkatkan produktivitas saya, khususnya di bidang fotografi, blogging, dan video editing. Mulanya juga saya pikir laptop ROG Flow X13 GV301RE yang saya beli Ramadhan 2023 lalu bisa menangani ini. Pasalnya laptop tersebut sudah ditenagai dengan spesifikasi yang amat tinggi: dari prosesor AMD Ryzen 7 6800 HS, dan GPU Nvidia RTX 3050 Ti, pun dengan penyimpanan SSD 1TB. Perangkat ini sudah begitu powerful untuk profesi saya yang hanya seorang digital product designer.
Saya memang sengaja membeli spek perangkat yang tinggi sekalian agar future proof— dapat digunakan untuk keperluan lain yang membutuhkan perangkat dengan kemampuan komputasi tinggi. Sayangnya, laptop ini tidak serta merta berhasil membuat saya produktif. Spek yang tinggi membuat saya betah bermain gim berjam-jam, atau menggunakannya untuk mendesain dengan Figma. Okelah, mungkin saya butuh satu perangkat lagi, dan sudah pasti berbentuk tablet.
![]() |
Kawan saya menggambar di laptop ROG Flow X13 |
Tablet, ya. Hanya perangkat ini yang belum saya miliki selain laptop spek tinggi, ponsel flagship lawas, dan smart tv. Kemungkinan tablet ini lebih saya gunakan untuk menggambar. Jelas, tablet sudah barang tentu layar sentuh, dan ukurannya yang mirip dengan buku gambar A4, bisa jadi medium baru saya untuk belajar menggambar meskipun laptop sudah layar sentuh juga dan mendapat stylus.
Kelebihan tablet iPad Pro ini bagi saya
Dari sekian banyak opsi tablet yang mendukung, akhirnya saya memilih iPad Pro M2 2022 - 256 GB. Bukan karena gengsi, ada banyak pertimbangan kenapa saya memilih perangkat ini. Alasannya sebagai berikut:
A. Portabilitas
Perangkat tablet umumnya unggul dalam hal portabilitas. Selain didesain seringkas dan seringan mungkin, rata-rata tablet memiliki ketahanan baterai yang cukup untuk digunakan tanpa perlu tersambung ke pengisi daya seharian, atau bahkan lebih. Dalam dua bulan pemakaian, tablet saya bisa bertahan 2-3 harian untuk keperluan mengetik, menggambar, sembari nonton dengan PiP (picture-in-picture). Karena daya tahan yang lama ini juga, saya dapat menggunakannya ke mana pun saya pergi tanpa khawatir dengan baterainya: di dalam bus, kereta api jarak jauh, atau di alam terbuka sembari membaca e-buku.
![]() |
Bobotnya tergolong sangat ringan meski dengan dimensi 11,9 inci (belum termasuk cover + keyboard) |
B. Sistem Operasi dan Aplikasi
Pertimbangan utama kedua saya adalah sistem operasi. Saya bukan penggemar Apple maupun so called ekosistem-nya (toh ekosistem produk Samsung jauh lebih luas dari tv sampai lemari es). Tapi saya membutuhkan aplikasi-aplikasi yang sayangnya sementara ini hanya tersedia di iPadOS seperti Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, dan Adobe Lightroom. Dua dari tiga aplikasi tersebut hanya tersedia di iPadOS. Sayang kan sebagai pelanggan Adobe Creative Cloud, biaya langganan bulanan tetap dibebankan meski aplikasi tak digunakan.
Meski sudah tersedia juga di Windows 11, bagi saya aplikasi kreatif tersebut sangat berbeda secara UX dengan di iPadOS. Di tablet saya, aplikasi grafis tersebut desain UI-nya begitu sederhana, mudah dimengerti, dan karena simplifikasi fitur serta tampilan tersebut, aplikasi lebih mudah digunakan. Berbanding terbalik dengan di Windows 11 yang menampilkan fitur secara utuh/lengkap. Akhirnya saya bingung dan tidak tergerak untuk belajar. Bagaimana dengan tablet Android? Photoshop dan Illustrator tidak tersedia—setidaknya untuk saat ini.
Selain itu, adanya Lightroom di tablet saya memberikan keleluasaan untuk menyunting foto on-the-go semisal saya sedang di luar ruangan. Tinggal transfer foto dari kamera, sunting, beres. Ya walau belum punya kamera, heheheu. :(
![]() |
Paket Gojek Sameday datang. Gunakan paket sameday atau datang langsung ke toko supaya pembelian aman |
![]() |
Unboxing di kantor |
![]() |
halo |
![]() |
Tentu saja, proteksi ganda. Kesan pertama: enteng banget, klop dengan stylusnya (meski tidak bawaan) |
c. Corat-coret Ide, Anotasi, Baca Buku
Paket pembelian tablet saya memang tidak disertakan stylus. Alhasil saya perlu merogoh kocek untuk membeli Apple Pencil Gen 2. Meski begitu, stylus ini benar-benar berguna. Untuk menulis ide, saya biasa gunakan Figjam. Pun untuk membuat anotasi di dokumen, sekadar menanda-tangani kontrak dengan klien, stylusnya nyaman digunakan dan cukup ergonomis. Begitu pula saat membaca buku, lebih mudah menggunakan stylus ketika mencoret-coret ketimbang ujung jari.
![]() |
Hari pertama langsung pasang paperlike screen protector agar berasa menggambar di kanvas |
Kekurangan tablet iPad Pro menurut saya…
Sudah dengan kelebihannya, tentu saja tablet yang saya beli ini memiliki segudang kekurangan yang membuat saya urung untuk membeli jajaran produk dari produk buah lainnya. Saya sadar dengan membeli tablet ini, saya bekerja di tiga ekosistem berbeda: Android, iPadOS, dan Windows. Penting bagi seorang product designer untuk mencicipi ketiganya. Setidaknya ini beberapa kekurangan selama dua bulan pemakaian:
a. Bug Restart Sendiri
Satu hal yang saya sadari setelah beberapa hari penggunaan adalah adanya bug di iPadOS 17.2 dan sampai postingan ini rilis, di versi 17.3.1. Bug ini sepertinya muncul ketika iPad saya otomatis memperbarui sistem operasinya dari versi 16, beberapa saat setelah saya login ke iCloud yang lama vakum sejak 2017. Sayangnya, tidak ada opsi yang mudah diakses pengguna untuk bisa rollback, kembali ke versi sebelumnya kecuali reset iPad. Hal ini tentu merepotkan saya yang sudah menyimpan banyak data di iPad—meski semuanya cloud based tapi sudah tersimpan offline.
![]() |
Satu hal yang sangat menyebalkan, bug restart sendiri beberapa kali di perangkat yang konon paling sempurna bagi para iSheep |
b. Manajemen File yang Jauh Berbeda
Rupanya sistem manajemen berkas di ekosistem Apple sangat berbeda dengan Android dan Windows. Di kedua sistem operasi tersebut, aplikasi pelihat gambar (Photos & Google Photo) dapat dengan mudah memindai berkas tipe gambar dan video yang ada di dalam perangkat sehingga semua terindeks dengan baik walau di aplikasi File Manager sekali pun. Di iPadOS (begitu pula iOS dan MacOS), foto-foto yang tersimpan di Photos tidak bisa diakses dari Finder, begitu pula sebaliknya. Alhasil ini merepotkan workflow saya dalam produktif, khususnya ketika memosting tulisan ke blog.
Biasanya, saya memotret foto bahan konten melalui ponsel. Ketika terhubung ke wifi, semua foto dan video yang saya jepret otomatis tercadangkan ke OneDrive. Karena laptop saya Windows, semua berkas bisa langsung diakses dari File Explorer maupun aplikasi Foto. Bahkan misal tidak ada wifi, saya bisa gunakan Nearby Share yang tersedia di Android dan Windows sehingga berbagi file sangat seamless dan cepat.
![]() |
Foto-foto yang tersimpan di aplikasi Foto tidak bisa diakses dari Files |
![]() |
Aplikasi Foto tidak mengindeks berkas gambar dan video di Files |
Kondisi ini berbeda jauh dengan Apple. Tidak ada aplikasi yang kompatibel untuk memindahkan file dari ponsel ke tablet iPad dan sebaliknya, maupun ke laptop dan sebaliknya. Foto-foto saya masih bisa diakses dari aplikasi OneDrive. Sayangnya, ketika didownload otomatis tersimpan di aplikasi Foto, bukan Finder. Pun proses download-nya tidak bisa berjalan di belakang laiknya Windows dan Android: ia akan menutupi layar aplikasi sehingga saya hanya bisa menunggu download selesai. Seringnya sih error—mungkin ini kendala dari aplikasi dan server Microsoft, namun tetap saja ini terjadi di iPad.
c. Tampilan Aplikasi tidak Responsif
Tidak semua aplikasi yang ada di App Store ternyata responsif. Sering kali saya mengunduh aplikasi yang ternyata menggunakan resolusi iPhone sehingga tidak optimal dan nyaman digunakan di iPad. Misalnya Instagram. Ketika di tablet Android tata letak aplikasinya sudah lebih responsif dan mirip dengan versi web desktop, di iPad masih saja menggunakan tampilan mobile. WhatsApp tidak ada di iPad, sehingga saya harus memasang launcher WhatsApp Web menggunakan Safari.
d. Harga Aksesoris
Kurang lengkap membahas iPad kalau tidak membahas aksesorisnya. Ketika membeli iPad saya hanya dapat tablet dan set charger Singapura. Stylus, cover, dan keyboard? Tentu beli sendiri yang mana harganya mahal karena stereotip pemilik iPad diasosiasikan dengan kalangan atas. Alhasil total barang yang saya belanjakan untuk tablet juga membengkak.
![]() |
Tampilan keyboard folio Zagg dari belakang. Ulasan akan saya bahas di postingan terpisah |
![]() |
Beli yang orisinil dong, hehe |
e. Tidak Adanya Gerai Servis Resmi
Ini yang paling menyebalkan. Selama dua bulan pemakaian, hanya ada bug di OSnya yang cukup mengganggu saya. Meski mungkin bisa diselesaikan dengan menunggu developer Apple merilis pembaruan terkini, kadang saya ingin segera menyervis saya di service center terdekat.
Saya membeli iPad versi Singapura yang notabene internasional—terlihat dari adapter chargernya. Sayangnya, produk yang saya beli konon ditolak iBox sebagai partner Apple untuk distribusi di Indonesia. Dari toko tempat saya beli, StudioPonsel, menyarankan saya untuk servis ke pihak rekanan. Garansi tetap berlaku namun butuh waktu untuk request ke pihak Apple terlebih dahulu. Menyebalkannya Apple juga masih enggan ekspansi ke Indonesia sehingga meski pun layanan servis Apple dibilang terbaik, saya tidak bisa mendapatkannya. Apalagi layanan servis pihak ketiga di Indonesia begitu ampas: butuh waktu 2 minggu perbaikan hanya untuk masalah bug yang saya alami. Akhirnya saya putuskan untuk batal servis karena khawatir juga suku cadang perangkat dikanibal. Suka tidak suka saya menunggu waktu pelesir ke Singapura untuk memperbaiki kendala di tablet saya.
f. Konfirmasi Unduhan
Satu hal yang aneh (banget) di OS iPad adalah proses unduh file yang hanya bisa diproses satu per satu dengan konfirmasi setiap unduhannya. Awalnya saya pikir ini hanya pengaturan peramban saya yang aneh, tapi ternyata semua peramban polanya sama.
![]() |
Selalu ada konfirmasi unduhan ini sebenarnya bagus, membuat pengguna aware soal bahaya virus dan malware, cuma terlalu annoying kalau tidak ada opsi menonaktifkannya |
![]() |
Begitu pula di Chrome, Edge, dan Opera, selalu ada konfirmasi unduhan |
![]() |
Proses unduhan pun tidak bisa dilakukan di latar belakang (dengan progres muncul di notifikasi laiknya Android) |
Harga untuk kesemua perangkat ini
Selain unit tablet, ada beberapa perangkat lain yang ikut saya beli. Kalau ditotal, pembelian kesemuanya mencapai 18 juta rupiah. Perangkat-perangkat ini akan saya ulas di postingan terpisah, di antaranya:
Kesimpulan
Sejauh ini sih saya masih mengeksplor kebergunaan tablet ini. Walau aksesoris sudah komplit, tampaknya pekerjaan utama sudah lebih dulu menguras energi untuk bisa berkreasi di malam hari. Ya sementara cuma buat nulis di blog, ulasan GMaps, dan baca buku. Kembali ke judul, apakah saya menyesali pembelian ini? Tentu tidak. Hanya saja saya belum bisa mengoptimalkannya untuk jadi sumber pendapatan.
![]() |
Buat baca koran Kompas.id, nyaman banget ketimbang di hape atau PC |
:: I Wonder As I Wander ::