![]() |
Iya, ini lagi ngomongin motor GL Pro yang dengan susah payah saya bangun sejak era covid, atau tepatnya pada awal September 2021. Waktu itu, saya diajak untuk touring motor Herex (Honda Racing Extreme) dari Jogja ke Bromo. Dengan selesainya proyek pembangunan sepeda kustom si Kromo, yang dibangun dengan susah payah mengumpulkan tabungan kerja, mungkin ada benarnya saya untuk juga membangun motor kustom si Ronen. Toh secara ngga langsung saya juga udah tergabung ke dalam keluarga MK karena sering main ke sini. Kata ‘Ronen’ sendiri berarti roto kenen alias rata kanan, motor spesifikasi tinggi yang ingin saya rakit agar jadi kebanggaan, apalagi pembangunannya akan murni menggunakan penghasilan dari kerja sampingan (freelance) yang notabene akan dicicil.
Namun yang lebih menyebalkannya lagi, semua ini dimulai dari rasa iba saya terhadap kondisi keuangan dan usaha kawan di masa awal pandemi. Yap, semua orang kehilangan penghasilan karena kebijakan PSBB, dan saya alhamdulillah masih berpenghasilan dari pekerjaan utama dan freelance. Sebelum memutuskan untuk mulai membangun, saya mempertimbangkan faktor hobi yang ternyata memang gemar solo touring. Alhasil, dengan ide akan melakukan eksplorasi Jawa bersama kawan-kawan, saya mulai membangun. Sayangnya, ide ini yang kemudian saya sesali, dua-tiga tahun kemudian.
![]() |
Hasil akhir perakitan motor yang... pada akhirnya mengecewakan saya |
Problem Pertama: Terlanjur Mulai
“Tapi nanti kalau bangun dari 0, biayanya akan gede lho,” saya sebenarnya belum mengiyakan soal opsi bangun dari nol karena prediksi membengkaknya biaya pembangunan apabila tidak memperhitungkan antara beli unit lalu bongkar, atau mencicil. Sebagai orang yang sudah melek manajemen keuangan sejak 2018, tentu setiap keputusan yang berdampak finansial saya lakukan dengan kehati-hatian. Namun sayangnya builder sudah terlanjur membeli shock motor depan dengan segitiga untuk bagian stang karena mendapati KYB di harga yang murah. Alhasil suka tidak suka, pilihan bangun dari 0 auto dimulai dengan saya harus reimburse barang sembari merogoh kocek awal seharga item tersebut. Sejak 1 September 2021 ini, tonggak awal pembangunan dimulai.
Problem Kedua: Kalkulasi (dan Korupsi)
Seiring berjalannya waktu, saya terus bekerja ekstra keras, mengorbankan waktu produktif saya hanya untuk mencari pundi-pundi rupiah. Beruntung, medio 2021-2022, pekerjaan UIUX demand-nya sedang tinggi, sehingga ada saja proyek yang saya kerjakan. Uang dari kerja sampingan ini pun saya kumpulkan dan setiap melampaui Rp8 juta, saya setor ke bengkel. Namun sayangnya, tidak ada transparansi dari pihak bengkel. Beberapa kali builder mengirimkan foto uang yang disetorkan telah dibelanjakan untuk apa saja. Namun markup dilakukan untuk hampir semua item. Padahal di awal, saya sudah berpesan deposit hanya untuk pembelian komponen. Untuk upah, bisa saya berikan terpisah (plus bonus ketika selesai sebelum tenggat waktu pada 1 September 2022).
![]() |
Beberapa catatan terkait barang yang dibel, sayangnya beberapa di antaranya tidak disertakan nominal harga, atau bahkan kualitas tidak sebanding dengan harganya |
![]() |
Sparepart yang ditukar oleh si P |
Problem Ketiga: Intervensi Keluarga
Tentu saja dengan adanya masalah ini, keluarga besar saya tidak diam. Berhubung saudara sepupu saya adalah polisi di Bareskrim Polda Jateng, bengkel dan geng ini ingin dilaporkan ke polisi. Kakak sepupu saya yang merupakan trainer di Akademi Militer juga ingin turun tangan. Keadaan semakin chaos, tapi saya pastikan mereka untuk tidak campur terhadap urusan personal saya dengan kawan geng. Alhasil, saya dicekal untuk nongkrong bareng dengan orang geng. Intervensi ini berakibat adanya perselisihan saya dengan keluarga. Di sisi lain, perselisihan di dalam geng juga terjadi karena selama ini paguyuban itu bertemu tidak berada di bawah bendera yang sama.
Problem Keempat: Perselisihan di dalam Geng
Ada dampak sekunder dari buruknya kinerja bengkel terhadap geng. Gosip dan penilaian buruk bengkel kini telah menyebar ke seantero anak geng dan ternyata banyak juga yang dirugikan selain. Sebut saja I, sudah memasukkan uang belasan juta untuk pengerjaan motor chopper impiannya juga masih belum ada progres. Begitu juga si N, membangun motor CB yang juga tidak ada kabar sama sekali. Berbeda dengan saya yang mau konfrontasi, keduanya lebih memilih membiarkan uang mereka entah kemana akhirnya.
![]() |
Dari satu bengkel ke bengkel lain sebenarnya hanya memperbaiki isu-isu kecil, namun biayanya juga lumayan |
Di sisi lain, semenjak akhir 2022 sebenarnya geng sudah bubar dengan sendirinya. Banyak faktor penyebab, mulai dari tuntutan hidup, juga dampak domino dari gosip yang menyebar membuat mereka tak lagi guyub. Nongkrong? Relatif jarang. Antara satu anggota dengan yang lain sebenarnya tinggal di area yang sama, tapi baguslah bila mereka bubar sendiri. Jadi ada alasan buat saya untuk tidak lagi menyambangi.
Problem Kelima: Pindah berkala, bengkel ke bengkel…
Meski sudah ditarik, masih ada banyak sekali PR motor yang harus dituntaskan—terutama di bagian permesinan. Demi menjaga nama baik bengkel, saya dan si P sampai merahasiakan fakta kalau motor rosok ini sejatinya diperbaiki di Jogja. Yap, di bengkel yang ternyata men-charge biaya servis ke saya sangat fantastis. Bengkel ini mungkin juga diisi oleh orang BU (butuh uang) sehingga, setelah mengetahui bahwa saya bekerja di Jakarta, sengaja meminta biaya yang lebih. Kalau bukan karena rekomendasi si P, mungkin saya tidak akan memasukkan motor ini ke situ. Toh dalam pengerjaannya juga terbilang molor, dengan kualitas yang tak baik juga.
![]() |
Kondisi motor di April 2023 |
Setelah beberapa kali diservis, motor ini dicoba menanjak ke Mangunan, Bantul. Hasilnya cukup memuaskan, mesin motor prima bisa mendaki turun jalanan. Shock bekerja dengan baik sehingga sangat nyaman ketika melewati jalanan rusak. Tapi ya PRnya masih berlanjut.
Beberapa part motor juga ada yang perlu disetel, terutama di dasbor. Sistem perapian aman, namun belum semua indikator dasbor bisa berfungsi. Alhasil setelah mesin aman, lanjut pindah bengkel lagi. Kali ini bengkelnya jauh lebih baik, pemiliknya tidak aji mumpung, dan memang dikenal handal dalam urusan perkabelan. Namun ya tidak menutup fakta kalau banyak sekali biaya dikeluarkan hanya untuk melanjutkan PR-PR yang belum tuntas. Di fase ini, total perbaikan sudah mencapai Rp37,12 juta.
Problem (Semoga) Terakhir: Ekspektasi
Dengan pengorbanan waktu serta biaya sedemikian rupa, ternyata hasil akhir motor ini jauh, sangat jauh, benar-benar jauh di bawah ekspektasi. Mungkin karena saya mendadak memberi tahu pada Januari 2023 akan mengangkut si Ronen, builder langsung merakit semuanya dengan asal-asalan. Pun motor ini juga belum bisa berjalan. Saya harus merogoh kocek kembali untuk menyelesaikan sisanya. Dan ketika semua sudah (setidaknya saya anggap) selesai, ternyata beberapa masalah menghampiri motor ini.
Mulai dari oli yang rembes dar bagian mesin. Saya menyadari ketika motor ini parkir di garasi rumah dan terlihat tetesan hitam di bawahnya. Lalu dilanjut dengan standar samping yang tiba-tiba patah. Setelah melihat foto beberapa bulan sebelumnya, ada indikasi kalau sparepart ini termasuk yang ditukar. Problem lainnya ada di lampu jauh yang mati, lalu tak lama lampu stoplamp yang juga putus.
Semua kerusakan tersebut awalnya dapat saya tolerir hingga akhirnya…
Suatu sore, saya memutuskan untuk pergi ke Obelix Sea View di Gunungkidul. Daripada melalui tanjakan curam dari Parangtritis, saya memutuskan memutar melewati jalan yang disarankan dilewati roda empat, memutar lewat atas. Perjalanan semula mulus, hingga akhirnya ketika di turunan, mesin mengalami loss, engine brake tidak berfungsi, juga membuat saya hampir menabrak beberapa mobil yang antre masuk ke area parkir wisata tersebut. Beruntung saya refleks membanting setir ke arah semak-semak yang membuat motor berhenti karena pasir dan bebatuan.
Malam harinya, motor dievakuasi oleh teman-teman geng yang tentu saja saya harus merogoh kocek ekstra. Pun harus bayar bengkel rekanan lagi untuk akhirnya bisa kembali ke rumah. Sejak saat itu, keputusan saya final: jual GL ini dengan santai.
![]() |
Motor diangkut ke bengkel rekanan menggunakan mobil bak |
Akhir Kata
Pada akhirnya saya putuskan untuk menjual motor ini dengan harga murah. Ya, tentu saya sudah rugi bandar dan ditambah menjual motor ini, setidaknya satu masalah hidup tidak lagi menghantui saya. Pun ketika proses penjualan, sialnya rongsokan ini sulit terjual karena kondisi ekonomi nasional sedang lesu. Jadi, kembali lagi, saya memang tidak mengharapkan return yang besar dari penjualan rongsokan ini.
“Yang mesti udah ngga keliatan lagi deh barangnya,” tutup saya mengakhiri sesi curhat kepada sahabat.
:: I Wonder As I Wander ::