Blog ini sedang dalam masa pemeliharaan.

Etape #1: Dari Perkebunan Tembakau Temanggung ke Teh Wonosobo dengan TVS Ronin 225cc Nimbus Grey

Ekspedisi singkat saya dengan TVS Ronin 225cc buat saya mengetahui, tanpa adanya kenaikan cukai tembakau/rokok, para petani sudah sengsara

Belum genap dua hari semenjak mengendarai Ronin, rasanya saya tak sabar menggeber mesin 225 cc ini mendaki pegunungan dan menuruni lembah. Dan benar, meski kecepatan masih terbatas pada 50 kmpj karena masih masa 'reyén', touring santai rute pendek kali ini benar-benar menyenangkan.

Salam kenal, TVS Ronin 225cc Nimbus Grey saya

Saya mengambil rute dari rumah ke Kledung Pass, lanjut ke Gunung Cilik untuk etape pertama ini. Di sepanjang jalan di sisi kiri-kanan, terdapat banyak nampan bambu dengan rajangan tembakau di atasnya. Memang benar, sekarang adalah musim panen tembakau. Beruntung cuaca cerah dan atmosfer bersih, rajangan tembakau ini bisa lekas kering.

Lanskap dari lapangan Kledung ke arah selatan



Nampan-nampan berjejer di tepi jalan dan lapangan, berisi dau tembakau yang sudah dirajang dan sedang dikeringkan

Di Kledung saya mampir sejenak, menyesap teh hangat racikan pedagang sekitar sebelum lanjut ke Kaliurip. Meski akhir pekan, jalanan relatif lengang padahal libur panjang.

Edisi spesial

Titik favorit saya untuk berfoto dengan lanskap Gunung Sindoro

Lanskap Gunung Sumbing di arah sebaliknya

Memasuki Kab. Wonosobo, lanskap perkebunan tembakau berganti teh. Kali ini banyak petani teh sedang sibuk memetik daun teh dan memasukkannya ke dalam keranjang. Di sudut lain jalan, sebuah truk telah siap memboyong pucuk daun teh yang masih segar itu ke pabrik-pabrik guna disortir berdasarkan kualitasnya. Biasanya, daun-daun teh ini akan dipisahkan berdasarkan kualitas, tingkat kematangan, dan jenisnya. Pun ini baru rangkaian awal sebelum teh akan dilayukan, digulung, dioksidasi, dimatangkan, dikeringkan, sebelum akhirnya disortir lagi untuk pengemasan.

Seorang petani teh memboyong keranjang berisi daun teh yang baru saja dipetik

Para petani melakukan estafet, memindahkan keranjang teh ke bak truk
Cuaca cerah sangat menyenangkan untuk ekspedisi kali ini

Minibus melaju, membawa rombongan wisatawan lokal

Bisa dibilang, sebagian besar wilayah di Kabupaten Wonosobo masuk KRB (Kawasan Rawan Bencana) namun dengan derajat kerentanan yang berbeda

Karena berbatasan dengan Temanggung, beberapa wilayah di Kecamatan Kaliurip juga membudidayakan tembakau. Beberapa petani sedang memanen daun-daun tembakau guna berikutnya dibawa ke pabrik—bila telah bermitra, atau diolah secara swadaya. Biasanya setelah dipanen, daun tembakau akan dikeringkan untuk mengurangi kadar air sebelum akhirnya dirajang dan dikeringkan lagi yang dilanjut dengan proses fermentasi.

Dua petani tembakau menggarap lahan yang sama

Sembari panen, saya berdiskusi singkat mengenai kebijakan pemerintah terkini

Petani memetik daun tembakau yang siap dikeringkan lalu dirajang

Sebagai orang yang mengikuti kebijakan pemerintah, saya iseng bertanya soal perspektif para petani ini terhadap kebijakan cukai rokok di 2024 ini. Jawaban beliau-beliau menarik, bahwa dengan ataupun tanpa kenaikan cukai, mereka sudah dulu sengsara. Massifnya impor tembakau yang dilakukan pemerintah guna memenuhi kebutuhan industri, lemahnya daya tawar petani (terutama) menjadi sebab utama. Para petani membutuhkan para tengkulak untuk memberi modal bertani sekaligus sebagai perantara utama ke pabrik, namun di sisi lain para tengkulak juga yang kadang ikut mempermainkan harga. Ketika harga jual dari tengkulak ke pabrik tinggi, di sisi lain harga jual petani ke tengkulak ditekan rendah. Karena terikat hutang, alhasil daya tawar para petani sangat lemah di sini. Tak hanya itu, problem rendahnya transparansi peran tangan antara petani dan pabrik membuat setiap pihak sebagai middle-man banyak mengambil keuntungan, maka tak heran hasil yang diterima para petani makin rendah.

Tanpa kenaikan cukai, para petani sudah dulu sengsara oleh rantai distribusi. Kenaikan cukai hanya akan memperburuk kondisi mereka. Cukai sedikit banyak pengaruh ke daya beli masyarakat, khususnya para perokok aktif. Dampaknya, terdapat beban tambahan bagi pabrik dengan kenaikan biaya produksi yang otomatis menyebabkan penurunan permintaan ke para petani tembakau. Faktor ini belum termasuk dengan adanya potensi kerusakan tanaman akibat krisis iklim, perubahan cuaca ekstrem, hingga hama.

Lalu apa solusi yang tepat untuk membantu para petani?

Beberapa solusi potensial bisa dilakukan. Pertama, satukan para petani melalui koperasi agar dapat menaikkan daya tawar dengan tengkulak maupun ketika negosiasi dengan pabrik ketika ingin memangkas middle-man. Berikutnya menciptakan pasar lelang tembakau, laiknya bursa saham, agar tercipta harga yang transparan dan kompetitif. Setelah itu, integrasikan petani dengan industri pengolahan tembakau melalui contract farming. Terakhir, perlu adanya diversifikasi usaha petani agar mereka tidak bergantung pada satu komoditas. Bisa juga lakukan transisi perlahan agar petani bisa beralih ke komoditas pertanian perkebunan lain yang lebih menguntungkan.

:: I Wonder As I Wander ::


Cuma seorang pejalan yang gemar memaknai hubungan sosial.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.