Kedai Burger di Belantara itu Bernama Acala

Acala mungkin jadi satu-satunya kedai burger di tengah belantara—setidaknya hingga postingan ini ditulis.

“Ini mas, sodanya,” mas-mas pramusaji itu melempar senyum merekah sembari menyodorkan setengah gelas normal soda limun ke sudut meja. Saya yang tengah mendengar instruksi pajak di YouTube pun melepas gawai dengar, dan mengeluarkan kalimat templat, “Matursuwun mas, hehe.”

Di ujung pandang depan mata saya, hamparan belantara pohon jati membentang, dari pinggir Kali Progo hingga ujung samudera. Pemandangan ini sebenarnya akan jauh lebih megah ketika musim kemarau dengan janji langit birunya. Sayang, saya datang ke kedai ini bahkan di Februari, demi menghabiskan sisa-sisa jatah cuti.

Oiya, kedai ini bernama Acala—sebuah resto burger sederhana di tengah belantara, di samping jurang menganga. Saking pelosoknya resto ini, pramusaji lebih dulu menawarkan kata sandi wifi dibanding menu yang tersedia di sini. Dan saking pelosoknya lagi, kalau tidak ada plang ‘Acala’ di sepanjang jalan, saya tidak yakin dengan tujuan kulineran saya kali ini. Kecuali untuk bersenang-senang sebelum ‘menderita’ selama 30 hari lamanya.

Hanya plang-plang ini yang menyelamatkan eksplorasi saya
“Jujur janggal ya Che!”
Sempat lewat kubangan lumpur. Ya, kalau sedang hujan tentu repot.

***

“Ini mas pesanannya, ada Fatty Burger dengan wedges,” kali ini saya perlu menyingkirkan tablet ke kursi. Maklum, meski titelnya libur cuti, saya masih berupaya produktif ketimbang bengong di tempat tujuan.

Sekarang, sudah ada segelas soda limun dan nampan berisi burger dengan double patty yang gemuk mengapit telur mata sapi itu. Saya sengaja memesan menu terbesar di sini karena memang belum sarapan. Sebagai pendamba intermittent fasting yang hampir konsisten berhenti makan pukul 8 malam dan bersambung ke tengah hari berikutnya, berat badan saya ternyata turun 10 kg semenjak tidak lagi berkomuter di Jakarta. Tentu memilih burger karena sudah bosan dengan nasi—setidaknya untuk saat ini. Dan Acala, yang mendadak muncul di rekomendasi Google Maps saya, akhirnya menjadi destinasi.

Beranda Acala. Terdapat beberapa motor mungkin rekan empunya.
Tersedia wifi apabila terkendala pembayaran dengan QRIS
Serba hijau, idaman warga kota
Tersedia bangku luar, mungkin cocok untuk bersantai di sore hari
Kalau punya teropong, mesti bibir pantai selatan terlihat jelas

Tapi saya harus fokus ke Coretax, kesibukan umum kelas buruh di penghujung Februari. Meski tahun lalu negara tidak membantu perekonomian saya sama sekali sehingga menganggur 4 bulan dengan nol pendapatan, setidaknya saya tetap mencoba tertib melaporkan kondisi keuangan pribadi ke negara yang berisi bandit ini.

Ini dia yang ditunggu-tunggu

Kembali ke burger yang dihunus pisau itu, rasanya tidak diragukan lagi. Kali ini visual sepadan dengan rasa. Patty yang sangat juicy dan berserat padat itu membuat makan siang saya sedikit repot memang. Makan dengan kedua tangan mencapit bun super empuk membuat sari daging menetes, gurih gila mengalir di sela jari-jari, selain keju slice yang sudah dulu leleh tentunya. Sesekali setiap beberapa suap, tisu yang sudah rapi membungkus sendok garpu itu harus siap membersihkan kekacauan cara makan saya. Maklum, sebenarnya saya menghindari UPF, namun tetap toleran untuk beberapa kali dalam sebulan. Burger tentu jarang sekali saya santap.

Menu Fatty Burger dan kelengkapannya

Sesekali, salad yang jadi isian terbawah jatuh ke nampan. Segar dan sangat renyah. Tumisan bawang di atasnya pun harum tercium wangi. Dalam beberapa kali suap, saya oleskan burger—terutama patty, ke saus yang mungkin sebenarnya buat wedges. Oh, tapi ini yang membuat after taste sesuai menyantap burger ini masih terasa di kerongkongan, bawah lidah, bahkan beberapa jam pasca makan di Acala.

Waktunya tutup laptop sejenak dari kerepotan melapor pajak
Oh that well-baked wedges
Tak habis-habisnya memotret dari berbagai sudut
Sangat cokelat keemasan merona
Keju slice lumer di antara patties
Isian yang penuh, membuat pandangan cepat luluh
Ah, burger sempurna di cuaca yang manja

Soda limun jadi penutup makan siang waktu itu. Memang keduanya adalah padanan pas menurut selera orang-orang barat: burger dengan patty super smoky, ditambah minuman fizzy di setiap tenggaknya. Sebenarnya beberapa menu kopi tersedia di sini, sayangnya… “Beans-nya lagi kosong mas, hehe. Soalnya kemarin rame jadi belum nyetok lagi.”

***

Well, tampaknya saya akan kembali lagi ke kedai tepi jurang ini. Tentu dengan agenda berbeda, dan tidak sibuk dengan perpajakan dengan tetek-bengeknya.

Konon bisa jalan-jalan gratis dengan jeep, namun ada syarat dan ketentuan berlaku
Bergabung dengan lansiran

Suka dengan pos ini?

Berlangganan agar tidak tertinggal pembaruan.

Thank you for subscribing to the newsletter.

Oops. Something went wrong. Please try again later.

Johan Ferdian JR

Johan Ferdian JR

Goweser kalcer yang mencoba ngultra • Blogger • Digital product designer • Freelancer at Webber.id

Butuh jasa desain? Yuk jadwalkan konsultasi

Panel diskusi

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Intuisi - @hajigoor

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca