“Huh, hah!” nafas saya tersengal ketika sengatan mentari pukul 9 pagi memanaskan kepala. Kilometer dua empat memang cukup menanjak. Saya perhatikan, bikecomp menunjukkan angka 11%, menandakan kemiringan sekitar 6,3 derajat. Air putih yang telah dicampur dengan isotonik serbuk berkonsentrasi tinggi itu masih ada, namun sepertinya manajemen tenaga saya memang payah.

“Apa sebaiknya menyerah dan balik aja? Toh hari ini juga kesiangan berangkatnya,” pikir saya.
Saya menerawang sekitar. Patok beton kuning di pinggir jalan ini menunjukkan angka 23, menandakan hanya separuh jarak lagi untuk tiba di kota berikutnya. Pandangan beralih ke layar mungil yang ternyata terpancar cerah meski matahari tak kalah terik kala itu. Hanya 300 meter lagi sebelum saya tiba di puncak tertinggi dan meluncur sebebas-bebasnya ke sisi bukit sebaliknya.
‘Oke deh, kalo gitu tunggu HRnya turun dulu, baru lanjut lagi pelan-pelan.’

***
Ini adalah pemberhentian ketiga saya setelah jalan sedikit menanjak di Salaman. Jalan provinsi yang ramai dilalui kendaraan berat dan bus besar antar kota ini tidak lebar, namun cukup aman untuk berhenti sepeda. Dan hari ini, saya berencana gowes 175 kilometer, mengitari perbukitan Menoreh, lanjut ke arah Purworejo, bandara Temon, lanjut ke Bantul lalu kembali ke rumah.

Menggunakan sepeda Tambora, berbekal permen dan cokelat kunyah, saya mencoba menekan batas diri menjelang pergelaran Audax Jogja 100 yang akan saya ikuti minggu depan. Maklum, bila agenda gowes ini tanpa berbatas waktu, event Audax besok memiliki cut off time selama 7,5 jam. Idealnya, batas waktu ini ditentukan oleh panitia menggunakan dasar asumsi worst case scenario yang dihadapi para peserta—entah itu carbo loading, kendala di sepeda, fisik, maupun faktor eksternal seperti cuaca. Dan dengan waktu selama itu, saya targetkan untuk bisa tiba di garis finish dalam waktu 4,5 jam. Dengan kata lain, kecepatan rata-rata sekitar 25 kmpj.

***
Saya melihat ke arah jam tangan saya, angka HR kembali stabil di sekitar 100an. Waktunya mengayuh pedal. Tidak sampai satu lagu selesai diputar, saya telah berada di titik tertinggi perjalanan ini. Tanpa perlu membuang banyak tenaga, tanjakan beralih jadi rute datar, tak lama kemudian, turunan curam.

Perbatasan Magelang – Purworejo memang berada di lereng perbukitan, membuatnya sangat curam, menurun dahsyat dari Magelang atau menanjak hebat dari Purworejo. Turunan ini pun berlangsung dalam beberapa kilometer sehingga sering terjadi kecelakaan kendaraan berat mengalami rem blong. Kasus terakhir, rombongan ibu-ibu PKK dalam mobil angkutan desa diseruduk truk yang lepas kendali, semua penumpang tewas di tempat. Tak lama sejak kejadian tersebut, terjadi kecelakaan lagi di area yang sama. Sebagai jalan provinsi, tidak ada upaya dari pemprov Jateng untuk menyediakan jalur pemberhentian darurat di beberapa titik. Meski sudah dilarang untuk lewat, tidak ada penjagaan dari polisi lalu lintas di daerah ini. Ya, penegakan hukum sangat lemah dengan polisi yang mudah disuap menjadi fenomena biasa, meski tak sedikit angkutan mengalami over dimension and over load (ODOL).

Inilah mengapa yang membuat saya memutuskan untuk berhenti sejenak di gapura perbatasan ketika terdengar deru mesin diesel tak jauh di belakang. Setelah iring-iringan kendaraan berat sudah tidak di belakang saya, barulah saya lanjut meluncur hingga ke Kalijambe.

Jalan Purworejo – Magelang ini beralih dari aspal ke beton, lalu kembali ke aspal. Bagian betonnya menyenangkan. Guratannya terasa menggelitik di handle bar, meski secara realita grip ban jadi kurang. Bagian aspalnya menurut saya menyebalkan. Terdapat lubang di banyak sekali titik, dan aspal yang bergelombang akibat truk dengan muatan berlebih. Saya harus selalu jeli ketika melintas bila tidak ingin terpental dari lintasan. Uniknya, semua kerusakan ini terjadi setelah batas kabupaten, alias dominan berada di sisi Purworejo.
Gowes berlanjut. Cuaca cerah berganti cerah berawan hingga Purworejo kota. Sesekali saya berpapasan dengan goweser dari arah lawan. Ragam sepeda mereka gunakan, dari MTB yang biasa jadi pilihan andalan bapak-bapak, hingga roadbike jadul yang diikendarai muda-mudi berseragam jersey yang sama. Entah mengapa saya belum ada keinginan mencoba pakaian jersey, apalagi tidak ada desain yang saya sukai di toko daring sana.

Tiba di Purworejo kota, tentu saya akan mencoba tempat makan baru yang belum saya sambangi sebelumnya. Dari banyak opsi, Bakmi Bandung 69 jadi pilihan singgah sejenak.
***
Perjalanan berlanjut meski terik tetap menghitamkan leher. Sesekali saya mengesap air dari bidon supaya tetap terhidrasi.

Tak lupa, saya mampir di alun-alun Purworejo. Alun-alun terbesar di Jawa Tengah ini tampak kosong. Seperti tipikal penjelajah pada umumnya, saya memotret Tambora dengan latar branding Purworejo nan ikonik itu. Buat saya, branding Purworejo lebih melekat di ingatan karena konsisten digunakan menahun tanpa ada perubahan walau bupati berganti.
Dari Purworejo ke perbatasan Kulon Progo hanya butuh waktu sekitar 90 menit. Sesekali saya berpapasan dengan bus antar kota berpelat Jawa Timur yang gemar ugal-ugalan itu. Ya beruntung segmen jalan nasional ini memiliki sisa ‘jalur sepeda’ di beberapa bagian. Jalan pun didominasi beton, meski beberapa segmen aspal tersisa kondisinya hancur parah, seperti yang ada di Krendetan.

Sebelum masuk Kulon Progo, saya sempatkan berbelok ke Stasiun Wojo. Ingat betul sewaktu bandara Temon belum memiliki stasiun, dulu saya sempat akan mencoba ke bandara dengan transit di sini, dilanjut shuttle gratis ke bandara. Hitung-hitung sekadar beli pengalaman, namun urung karena saya lebih memilih ngebakso di Kutoarjo.


Gowes berlanjut ke bandara Temon. Di sana, saya mencoba mereplika foto dengan Ronin di bawah patung Dewi Sri yang menjelma sebagai ikon masuk bandara. Cukup ironi karena Dewi Sri melambangkan kemakmuran, kesuburan, kehidupan, dan kesejahteraan yang sebenarnya identik dengan padi (beras). Namun fenomena yang akan terjadi ke depan adalah alih fungsi lahan akibat konsep airport city di Temon yang akan mengonversi hektar demi hektar sawah di sana.



***
Menuju Brosot, cuaca mulai berawan. Kali ini sinar matahari tak mampu menembus tebalnya atmosfer. Angin bertiup dari arah samping berulang kali mendorong saya ke arah parit. Seketika saya ingat ada sahabat semasa SMA yang tinggal tak jauh dari rute. Empat jam berlalu, waktunya carbo loading di siang hari.



“Gimana kabar? Kerjaan aman?” jawab saya sembari merobek serat daging ayam, melekatkannya pada gumpalan nasi. Obrolan siang itu terasa seru, sampai akhirnya saya tidak sengaja menyenggol bikecomp yang semula standby itu.
Bibibibip, bibibibip. Bunyi mono-tone membuat layar menyala. Rupanya saya tepat berada di kilometer seratus ketika makan siang di sini. Sungguh sebuah kebetulan.

***
Saya memelankan kecepatan di Bantul ketika awan hitam menggelayut di sisi utara. Hujan tentu sedang terjadi di area kota, namun saya tetap harus mengayuh sepeda. Rupanya benar, aspal kota basah, baunya khas menyengat hidung dengan asap membumbung samar.


Sudah sore, waktunya ibadah. Biasanya saya akan menghampiri sembarang musola atau masjid, namun untuk kali ini, masjid lama di Kotabaru jadi tujuan saya. Alih-alih diusir karena celana pad berada di atas dengkul membungkus erat paha,
“Mas nyari sarung? Ada di atas. Nanti sepatunya dimasukkan ke rak aja mas, aman.”
Dengan ramahnya, takmir mengarahkan saya. Hal yang sama biasa saya alami ketika sedang bersepeda di area Mataraman. Masyarakat di sini cenderung moderat, sehingga mereka tidak begitu menyematkan stigma atas cara berbusana. Andai saja di belahan lain negeri ini masyarakatnya memiliki karakter serupa.

Segera saya bersuci, dan melaksanakan ibadah. Hujan mereka, waktunya saya menyelesaikan paruh akhir perjalanan.
***
Ngebut, Benjut
Tikungan Sucen selalu jadi titik awal saya memacu sepeda. Baik Jaka maupun Tambora, keduanya enak untuk dibawa cepat melintasi Semen, Jumoyo hingga Pabelan. Di sini juga, saya menyebut segmen ini sebagai Muntilan sprint.
Saya mengakselerasi sepeda sepanjang turunan Sucen menuju pertigaan Semen. Beruntung, pertigaan ini baru saja menyala hijau—saya bisa mempertahankan kecepatan hingga pertigaan Jumoyo. Di simpang ini, lampu juga konsisten menyala hijau, menandakan timing yang tepat selama sepeda saya kayuh.

Melewati jembatan Jumoyo, truk-truk pasir mulai memadati jalan. Mereka umumnya akan melambat di sebelah kiri, rata tengah, sehingga menyisakan ruang di sebelah kiri. Jalur kanan tentu saja kendaraan bermotor saling bergantian mengambil ruang. Kadang mereka menyalakan dim untuk memaksa kendaraan lain untuk mengalah—tipikal Indon. Aspal kering, ‘jalur sepeda’ tersedia, saya segera masuk ke sisi kiri truk pasir yang menghambat lalu lintas ini.
Haluan sepeda masuk, saya menambah kecepatan. Lebar jalur sepeda yang sebenarnya bahu darurat ini cukup aman untuk akselerasi.
Lalu mendadak, motor matik bongsor yang semula akan mendahului dari sisi kanan berbelok ke kiri.
Ia menabrak sisi belakang kanan sepeda saya.
Mungkin RD.
Sepeda kehilangan kendali, roda belakang terangkat sepersekian detik.
Saya oleng.
Refleks, saya mencabut sepatu cleat yang baru lancar digunakan hari ini itu dari pedal.
Klak, klak.
Tambora oleng ke kanan, terseret beberapa meter.
Dan dengan anggunnya saya melompati Tambora, terpelanting dengan posisi laiknya banteng siap menyeruduk.
Pinggang membentuk sudut siku-siku.
Leher dan kepala lurus sempurna.
Sayangnya, ada kumpulan tiang yang tersusun bertumpuk, yang kemudian saya seduruk.
Brukkk.
Tubuh ini ambruk, di sisi bahu jalan.
Refleks kedua, saya bangkit, menghindari potensi ditabrak kendaraan dari belakang. Kepala tentu pusing, sakit.
Dan pengendara motor matik telah kabur entah kemana. Lagi-lagi tipikal Indon, tidak bertanggung-jawab.
***







Masuk mode kegawatdaruratan, saya mengecek kondisi tubuh. Dari semua organ, hanya lutut yang lecet terluka sedikit. Benturan di kepala memang sedikit sakit, dan sekarang memasuki golden time—mode observasi, bila muntah dan pusing berkelanjutan, tentu IGD jadi destinasi berikutnya.
Barang bawaan di vest? Oh aman.

Kondisi sepeda? Well, banyak lecet. Tapi tak masalah, yang penting nyawa selamat. Toh lecet ini akan jadi cerita ke depan. Bahwa seorang saya bisa memacu sepeda secepat 32.4 kmpj selama hampir 10 menit—yang tentunya lebih kencang lagi kalau tidak terjadi crash. Seingat saya, kecepatan tertinggi di angka 54 kmpj sebelum akhirnya celaka.

Rehat sejenak, saya putuskan menenggak dua botol air mineral. Rupanya, klip pengait helm hilang, terpental begitu kepala menubruk tiang, batin saya.
Dalam peluh dan rintih nyeri, kaki ini kembali berotasi. Menginjak pedal dengan pelan namun pasti, menuju rumah, di tengah malam dingin nan sunyi.













