Nest Coffee & Donuts: Galeri Kriya dan Furnitur yang Menjelma Toko Pastry

Tiba di siang hari, satpam dengan ramahnya mengarahkan tempat saya parkir. Yup, meski hari Jumat dan tengah hari, kafe yang dikenal menjual aneka ragam donat lembut dan ragam pastry lainnya ini sudah ramai pengunjung. Mungkin karena memang masih banyak yang berlibur di Jogja—alias belum jadi kloter back to reality bagian dua. Libur tahun baru memang jadi momentum pariwisata Jogja ketika jutaan manusia memadati wisata dari kota ke desa. Dengan ragam pilihan tema, wisata kuliner tampaknya sudah menjelma jadi sub-industri andalan.

Kembali ke kedai pastry ini, konsep industrial terpancar kuat dari arsitektur kafe ini. Karena sahabat sudah tiba duluan, saya putuskan mencari mereka sembari menikmati sudut-sudut anggun kedai.

Bangunan utama ternyata dipergunakan sebagai galeri furnitur di kedua lantainya. Dari depan, desain atap berundak mengingatkan saya akan arsitektur peradaban Hindu—versi minimalis. Terlihat adanya rumput di tiap tingkatan menginspirasi saya soal urban farming yang bisa dilakukan di bangunan beratap datar ini.

Well, rupanya kawan saya ada di area indoor yang didekorasi mirip kafe-kafe iklim tropis ala Bali. Meski indoor dan terbuka, rimbunnya pepohonan membuatnya teduh dan tidak terekspos matahari siang hari. Sejuk. Penggunaan material kayu membuatnya estetik, seragam dengan ragam set perabotan yang bebas diokupansi pengunjung.

“Gue pesen dulu ya,” ucap saya sembari menuju konter pemesanan. Bangunan kedua di belakang menjual ragam suvenir cantik, dari busana hingga dekorasi rumah. Aneka kriya ini pun saya rasa cocok untuk rumah-rumah di iklim tropis.

Menunggu giliran memesan, saya menebar pandangan. Meski signature kafe ini adalah donat, pastry yang lain juga kandas diburu pengunjung. Dihadapkan pada buku menu, tentu dengan segera kamera mendokumentasikan daftar makanan, minuman, camilan yang dipotret anggun itu. Walau banyak menu lain, sepertinya pilihan saya tetap pada donat mereka. Sejauh ini, baru Kalis—donat lokal yang saya coba, dan Nest akan jadi variabel pembandingnya.

“Adalagi mas?” tanya kasir sembari melempar senyum tipis.

“Hmm, apa ya? Red velvet boleh deh,” seru saya, menunjuk donat dengan taburan merah yang bertengger sendiri di rak belakang kasir.

“Ini struknya, nanti kami antar pesanannya.”

Kembali ke tongkrongan, lagi-lagi saya yang paling sibuk di sini. Maklum, hari Jumat pertama pasca tahun baru tidak libur karena meski bekerja di perusahaan multinasional, saya harus tetap mengikuti kalender Indonesia yang berwarna hitam. Laptop saya buka, menjadi properti dalam perbincangan tengah hari, ya walau tentu saya akan memilih ‘mengganti’ jam kerja di malam hari.

“Atas nama Hendri!”

Dalam sekejap saya angkat tangan. Tiga donat ranum itu ditata berdampingan. Agak tanggung memang, karena nampan yang digunakan bisa untuk 4 biji.

“Banyak amat beli 3?!”

“Yah namanya juga kreator kawakan mbak. Lumayan kan satu sisi bisa buat gelas minuman,” jawab saya sembari berdiri, mendoyongkan badan ke depan, dengan dahi mengernyit fokus pada susunan foto dalam bingkai.

Di sela-sela obrolan, saya mulai menyantap donat cokelat. Lembutnya donat-donat ini tidak bohong, rasa manis yang pas membuat Kalis tersisih untuk kali ini. Secuil demi cuil donat mendarat di mulut, yang meski ukuran porsinya standar, kepadatannya membuat kenyang. Cokelat tuntas, red velvet jadi sasaran berikutnya. Remukan merah yang jadi topping itu crunchy-pol, rasanya sayang buru-buru menghabiskan porsi kedua ini. Dengan anggun, saya letakkan sendok dan garpu melintangi bibir nampan, dan dengan yakin menyimpan porsi terakhir untuk disantap di rumah.

Tak terasa, azan asar berkumandang. Ada musola yang bisa diakses di lantai dua—muat 4 orang saja. Untuk menuju ke sana, saya harus melalui butik perabotan dahulu yang diset secara apik, sangat terlihat Indonesia. Tentu saja dekorasi indoor ini memancing setiap pengunjung untuk berswafoto, terutama di cermin ujung ruangan.

Rasanya seperti IKEA, versi Asia Tenggara.

Bergabung dengan lansiran

Suka dengan pos ini?

Berlangganan agar tidak tertinggal pembaruan.

Thank you for subscribing to the newsletter.

Oops. Something went wrong. Please try again later.

Johan Ferdian JR

Johan Ferdian JR

Goweser kalcer yang mencoba ngultra • Blogger • Digital product designer • Freelancer at Webber.id

Butuh jasa desain? Yuk jadwalkan konsultasi

Panel diskusi

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Intuisi - @hajigoor

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca