Baru tiba, mas-mas bellboy itu segera mengecek kamar yang telah saya pesan. Dengan segera Ia mencari kunci, lalu membawakan barang-barang yang sebenarnya juga tidak seberapa.
“Mau minum apa mas?” Ia mengedarkan selembar menu dengan laminating. Tampaknya menu ini tidak pernah berubah jika dilihat dari kualitas laminatingnya yang menekuk dan koyak.






Snooze sebenarnnya hanyalah satu dari sekian hostel bujet yang masuk dalam list saya. Namun begitu tiba di beranda, disambut serangkaian pelayanan sang bellboy atau resepsionis, penginapan ini jadi salah satu hostel terbaik menurut saya. Terletak di area dalam benteng Keraton, hostel ini sangat aksesibel ke daerah wisata di semua penjuru mata angin Yogyakarta. Selain itu, desain interiornya juga estetik, dekoratif, fotogeniklah kalau diposting ke media sosial. Dilihat dari bentuk pintu dan daun jendela, sepertinya hostel ini memang menempati bangunan lama. Pun lantainya juga masih menggunakan tegel abu-abu lawas khas bangunan yang berdiri di era kolonialisme. Meski hanya tersedia beberapa kamar, di hostel ini tersedia dapur dengan beragam opsi minuman bebas racik sendiri, taman dengan set bangku cantik di belakang, kamar dengan konfigurasi dormitory alias ranjang bertingkat, dan kamar mandi luar. Selama kami di sini, ada beberapa kucing empunya hostel berkeliaran bebas.





Bagaimana dengan kamarnya? Nyaman. Kasurnya empuk, selimutnya halus dan hangat. Pun kamar juga sangat artsy bagai kamar dalam set-set film. Pemesanan kamar saya tentu sudah termasuk handuk. Berhubung kamar mandi di luar, tidak disediakan toiletries tapi tidak masalah. Satu yang jadi problem di kamar mungkin penggunaan kipas ketimbang AC. Di harga yang sama dengan hostel lain di Jogja, Snooze tidak menyediakan pendingin udara. Untungnya kamar tidak begitu pengap ketika dipakai tidur. Disediakan pula obat anti nyamuk karena memang lingkungan sekitar sedikit lembab.















