Meski berada di kawasan mayoritas suku Dayak dan Melayu, masjid kecamatan Samalantan ini tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Alhasil, saya masih dapat mencerna konten ceramah tanpa perlu menerjemahkannya terlebih dahulu.
![]() |
| Foto kendid Ifan bersama truk bantuan Pemkab Bengkayang |
Mengapa pada saat ini saya merasa ritme waktu terasa lebih lambat daripada biasanya. Apabila sehari-hari di kosan waktu antara subuh ke duhur berasa seperti tiga jam saja, di sini waktu yang sama terasa seperti 7-10 jam. Ya, karena saya sempat tidur lelap tiga kali. Menunggu, adalah proses yang paling tidak saya sukai. Selain membuang waktu saya, menunggu juga menghambat kreativitas yang saya miliki. Tak lama berselang, mobil Panther biru berpelat B itu datang. Seperti biasa, bang Rio Kristianto membukakan pintu Pak Camat. Sebagai kaki tangan Pak Camat, ia sangat membantu kami dalam mengurusi barang-barang bawaan.
Sebuah truk tua, bantuan tahun 2001 pun parkir mundur. Truk ini mirip truk yang dipakai Satpol PP dikala bertugas menyisir, tetapi dengan kondisi yang sudah tidak layak tumpang. Hampir 30-40% bodi truk berkarat. Entah medan seperti apa yang bisa membuatnya patah seketika.
Kami bergotong-royong melakukan estafet barang-barang. Kopor-kopor besar disusun terlebih dahulu, kemudian ditindih kopor kecil atau tas. Sudah lengkap, barulah kami menaiki bak truk ini. “Nanti jalannya naik-turun dan berbatu,” ujar bang Rio, semacam peringatan bagi kami untuk menjejakkan kaki di atas koper.
![]() |
| Rivy, mencoba meneduh diantara tumpukan bagasi |
Sepanjang jalan antara Samalantan – Tumiang, pemandangan di kiri kanan jalan hanyalah hamparan sawah, perkebunan sawit, perladangan jagung yang saat ini sedang musim panen, pemandangan bukit dengan hutan tropis di kejauhan, hingga kuburan Nasrani. Ya, banyak kuburan yang dibuat sepanjang jalan ini, linier dan menyebar di kiri-kanan jalan. Unik. Sangat jarang saya temui pemakaman yang cenderung tidak berkelompok pada satu tempat, tidak seperti di sini.
Setengah perjalanan, truk berbelok ke arah selatan. Kali ini jalan adalah kewenangan desa, terjal, curam, berkelok mengikuti kontur perbukitan, dan sedikit berbahaya. Inilah jalan akses ke desa Tumiang. Tidak banyak rumah—terutama warung, kami temui di sepanjang jalan. Sekalinya ada, pola permukimannya linier dan hanya 2-5 unit. Rumah-rumah berdinding kayu beratap seng ini ada yang berbentuk panggung, namun kebanyakan sudah menapak tanah.
Sepuluh-lima belas menit, kami tiba di Kantor Desa Tumiang. Bangunan yang masih berdinding plester ini akan menjadi tempat tinggal saya bersama 4 rekan saya selama 50 hari ke depan. Sedangkan pondokan putri berjarak 300 – 500 meter dari kantor desa ini, bertempat di Puskesmas Pembantu Sokek. “Karena kami belum dapat kunci Puskemas-nya, yang putri silakan tinggal di sini,” ujar pak Kades Ardilala disambut sorak kebahagiaan mahasiswi. Ya, masa untuk makan putra harus berjalan kaki ke pondok yang berjarak setengah kilometer.
![]() |
| Suasana sore di desa Tumiang |















