Sego Segawe: Kultur yang Mulai Meluntur

Selasa, 14 Oktober 2008 mungkin akan menjadi salah satu momen bersejarah bagi para pesepeda khususnya di Kota Jogja. Pada waktu itu, Walikota Jogja Herry Zudianto bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X meresmikan semangat Sego Segawe yang berarti “sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe.” Peresmian kala itu rupanya bukan hanya seremonia belaka. Infrastruktur pendukung aktivitas bersepeda seperti jalur khusus sepeda dengan wujud garis kuning putus-putus dibuat, rak parkir sepeda disediakan di ruang publik termasuk halte TransJogja, juga adanya plang-plang hijau penunjuk jalur alternatif bagi pesepeda dengan melalui perkampungan warga. Bagi para pesepeda yang juga masyarakat lokal Jogja, momen kala itu adalah ‘kemenangan kecil’ meskipun tentu mengembalikan Jogja sebagai kota sepeda akan cukup sulit.

Setidaknya Jogja pernah menjadi kota pesepeda pada medio 1950 hingga 1970. Pada masa itu, sepeda adalah alat transportasi utama untuk bermobilitas hingga akhirnya sepeda onthel menjadi otentik dan melekat sebagai identitas Jogja. Bersepeda tidak hanya sehat, namun juga lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Selain sepeda, masyarakat Jogja juga menggunakan andong dan becak untuk berpindah tempat. Sayang, di masa orde baru dimana liberalisasi ekonomi terjadi, kendaraan bermotor jauh lebih mudah dimiliki melalui skema kredit sehingga membuat jalanan Jogja tidak lagi diisi pesepeda. Keunggulan kendaraan bermotor yang dapat melaju lebih cepat tentu menjadi pilihan masyarakat, alhasil masa kejayaan Jogja sebagai ‘ibukota sepeda’ memudar.

Mengangkut genting dengan sepeda onthel, Magelang 1975 (Sumber: Potret Lawas/Twitter)

Memasuki dekade kedua abad 21, tren gaya hidup mengalami pergeseran. Meski sepeda masih belum menjadi opsi mobilitas utama bagi kebanyakan orang, tren bersepeda kini terus berkembang begitu masyarakat menyadari manfaat bersepeda bagi diri sendiri dan lingkungan. Di Jogja, Selasa Wage dan momen Jumat malam terakhir setiap bulan adalah waktu dimana para pesepeda DIY merayakan eksistensi mereka. Mengikuti model critical mass yang dilakukan para peseda di San Fransisco, Amerika Serikat, momen bertajuk Jogja Last Friday Ride tak hanya jadi sindiran tidak langsung kepada pemangku kebijakan yang abai terhadap pesepeda sebagai minoritas urban, namun juga waktu untuk kembali srawung pada rekan, kolega, teman atau sahabat.

***

Jurnal Pedal hanyalah rubrik baru yang sedang saya garap. Dalam rubrik ini, saya akan membahas mengenai komunitas-komunitas pesepeda yang saya temui, serta aktivitas mereka di balik pedal. Tak hanya itu, Jurnal Pedal akan mengulas pengetahuan seputar sepeda serta pengalaman pribadi penulis sewaktu memancal pedal.

Bergabung dengan lansiran

Suka dengan pos ini?

Berlangganan agar tidak tertinggal pembaruan.

Thank you for subscribing to the newsletter.

Oops. Something went wrong. Please try again later.

Johan Ferdian JR

Johan Ferdian JR

Goweser kalcer yang mencoba ngultra • Blogger • Digital product designer • Freelancer at Webber.id

Butuh jasa desain? Yuk jadwalkan konsultasi

Panel diskusi

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Intuisi - @hajigoor

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca