Setidaknya Jogja pernah menjadi kota pesepeda pada medio 1950 hingga 1970. Pada masa itu, sepeda adalah alat transportasi utama untuk bermobilitas hingga akhirnya sepeda onthel menjadi otentik dan melekat sebagai identitas Jogja. Bersepeda tidak hanya sehat, namun juga lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Selain sepeda, masyarakat Jogja juga menggunakan andong dan becak untuk berpindah tempat. Sayang, di masa orde baru dimana liberalisasi ekonomi terjadi, kendaraan bermotor jauh lebih mudah dimiliki melalui skema kredit sehingga membuat jalanan Jogja tidak lagi diisi pesepeda. Keunggulan kendaraan bermotor yang dapat melaju lebih cepat tentu menjadi pilihan masyarakat, alhasil masa kejayaan Jogja sebagai ‘ibukota sepeda’ memudar.
![]() |
| Mengangkut genting dengan sepeda onthel, Magelang 1975 (Sumber: Potret Lawas/Twitter) |
Memasuki dekade kedua abad 21, tren gaya hidup mengalami pergeseran. Meski sepeda masih belum menjadi opsi mobilitas utama bagi kebanyakan orang, tren bersepeda kini terus berkembang begitu masyarakat menyadari manfaat bersepeda bagi diri sendiri dan lingkungan. Di Jogja, Selasa Wage dan momen Jumat malam terakhir setiap bulan adalah waktu dimana para pesepeda DIY merayakan eksistensi mereka. Mengikuti model critical mass yang dilakukan para peseda di San Fransisco, Amerika Serikat, momen bertajuk Jogja Last Friday Ride tak hanya jadi sindiran tidak langsung kepada pemangku kebijakan yang abai terhadap pesepeda sebagai minoritas urban, namun juga waktu untuk kembali srawung pada rekan, kolega, teman atau sahabat.
Jurnal Pedal hanyalah rubrik baru yang sedang saya garap. Dalam rubrik ini, saya akan membahas mengenai komunitas-komunitas pesepeda yang saya temui, serta aktivitas mereka di balik pedal. Tak hanya itu, Jurnal Pedal akan mengulas pengetahuan seputar sepeda serta pengalaman pribadi penulis sewaktu memancal pedal.













