![]() |
| Bukit Jamur di selatan jalan menuju Bengkayang |
“Udah siap?” tanya saya pada Komang. “Gue nggak bisa gantiin elu ya Mang selama perjalanan. Enggak bisa pakai motor kopling gue,” Komang menyanggupi. Perjalanan dimulai.
“Semua dua puluh empat,” jawab si kakek tua. Tubuhnya bungkuk, meringkuk, tanpa mengenakan baju. Di seberang kios kecilnya, ada 3 penjaja bensin eceran juga. Perlu diketahui, jumlah SPBU di Kabupaten Bengkayang bisa dihitung jari. Di kecamatan Samalantan dulu ada SPBU, kini sudah tutup karena konon pernah terjadi kebakaran hebat di sana. “Enggak ada SPBU lagi di jalan Mang. Tiga liter cukuplah. Nanti isi bensin di SPBU Bengkayang, kalau ada ya.”
Jalanan menuju Bengkayang benar-benar membawa fantasi saya pada kehidupan masyarakat perbatasan. Hutan, kebun sawit, sawah, bukit, rumah-rumah dengan pola menyebar, lalu hutan lagi adalah beberapa pemandangan biasa di sini. Samalantan menuju Bengkayang meski terpaut hanya tiga kecamatan, jarak yang harus saya tempuh untuk mengantar kembali amplop kecil ini sejauh 56 kilometer. Luar biasa! Jarak ini setara dengan jarak dari kosan saya di dekat UGM ke Temanggung. Atau dari kosan saya ke Solo. Dan walau hanya tiga kecamatan, luasnya mungkin setara dengan Kabupaten Sleman.
![]() |
| Melewati jalanan menanjak dan menikuk curam Bukit Vandering |
Separuh perjalanan awal, jalanan naik-turun landai dan sedikit berliku. Sama seperti jalan menuju kecamatan, setiap tikungan di sepanjang jalan ini umumnya terhalang oleh rerumputan tinggi yang membuat kami—saya terutama, kagetan kalau berpapasan. Di Serukam, terdapat jembatan dengan lebar hanya 3 meteran saja setelah tikungan. Kendaraan harus saling bergantian untuk lewat. Seperempat perjalanan berikutnya jalan mendaki dan menuruni Bukit Vandering yang biasa disebut warga lokal dengan ‘Pendaring’. Ada lima tikungan hampir 360 derajat di sini. Berikutnya di Sungai Betung, jauh di utara jalan terlihat gunung yang begitu megah. Asumsi saya, gunung itu terletak di perbatasan antar negara, atau Gunung Niut, atau Gunung Rumput. Sisi selatan jalan juga menyajikan pemandangan yang memanjakan mata dengan panorama sangat ciamik berlatar Bukit Jamur.
![]() |
| Deretan pertokoan di Bengkayang Kota |
Meski sudah satu harga, kekurangan Pertamina sebagai BUMN adalah belum meratanya pendistribusian BBM. Di Kabupaten Bengkayang, sejauh ini saya melihat hanya ada dua SPBU: satu di Samalantan, satu di Bengkayang. Meski hanya dua, tenang saja, ada ratusan pengecer bahan bakar bertebaran di pinggi jalan. Ada yang menjual hanya Premium, Pertalite, ada juga Pertamax yang dicampur oli—saya belum mengerti kenapa. Solar sangat langka di sini. Hal yang patut disayangkan, pembelian BBM dengan jerigen diperbolehkan disini. Menurut hemat saya, karena diperbolehkannya praktik beli BBM dengan jerigen membuat banyak BBM yang ditimbun. Banyaknya pengecer jadi salah satu faktor kenapa BBM di SPBU cepat habis, lalu BBM dijual ulang dengan harga yang sedikit lebih tinggi.
![]() |
| Komang dan pelat AB |
Saya menghela napas. Semoga ini kali terakhir saya wira-wiri ke sini.

















