Saya sudah mengusulkan pada tim Saintek untuk membuat program renovasi balai desa, salah satunya dengan memasang tangki air dan filtrasi untuk tadah hujan. Dengan cara ini, air hujan yang segar dan masih nirpolusi ini akan mengalir melalui talang air kemudian difilter sebelum masuk ke tangki. Berikutnya, air akan kembali difilter sebelum masuk ke bak mandi. Sayang, ide saya tidak ditanggapi. Okelah, asal pihak sekolah tidak keberatan dengan kehadiran saya yang mondar-mandir numpang mandi di toilet yang mana airnya selalu mengalir tanpa keran.
Rapat klaster usai. Kami telah menyusun klasifikasi program dengan topik masalah minimnya kesadara pendidikan sebagai prioritas utamanya. Dalam kegiatan KKN di UGM, masing-masing mahasiswa diwajibkan untuk melaksanakan 200 jam kegiatan program utama, dan 88 jam program bantu. Sepertinya terlihat banyak. Namun dengan waktu selama 5 – 8 minggu, 200 jam ini bisa dengan mudah dilalui. Mengisi logbook kegiatan dan lembar I1 jadi rutinitas harian yang tak bisa dilewatkan. Setiap harinya, ada momen-momen yang susah diingat, namun mudah untuk dituliskan.
‘Minimal bantu mipilin lah,’ ajak Angga kemarin. Mungkin Angga saat ini sedang ada di warung kecil Bang Jeff—kami biasa menyebutnya sebagai Starbucks, J.Co, dan sebagainya. Dan benar. Mudah bagi kami untuk mencari Angga dimana.
“Jun, sini Jun. Cobain Rujak Tumiang ini,” Angga menyodorkan sebaskom kecil salad. Awalnya saya mengira isinya parutan mentimun. Wangi masam menyengat hidung. “Ini dibuat dari daging pepaya muda,” timpal Bu Rita.
![]() |
| Bu Rita, sosok yang membantu kami beradaptasi dengan budaya masyarakat Dayak |
Istilahnya ‘kampunan’. Bagi masyarakat Dayak, menolak hidangan yang mereka sajikan bisa jadi sesuatu yang sensitif. Dosen pembimbing lapangan kami pernah berpesan, ‘Apabila kurang suka dengan sajian yang diberikan, minimal pegang bawah piring atau sentuh makanannya. Atau kalau bentuknya minuman, celupkan satu-dua jari ke dalamnya.’ Konon cara ini digunakan untuk menghargai sajian tuan rumah.
Bagi masyarakat Dayak, menolak hidangan yang mereka sajikan bisa jadi sesuatu yang sensitif.
Saya menyendok satu-dua pepaya parut itu. Tak lupa, kuah disertakan supaya tidak membuat dahaga. “Cicipi dulu ya. Semoga doyan,” saya menyeringai pada Bu Rita dan berharap supaya beliau tidak tersinggung apabila saya kurang suka. Sluuurp …
![]() |
| Saya mencicipi rojak khas Tumiang |
Ujung sendok makan menyekop parutan pepaya yang saya basahi sedikit kuah. Semoga enak. Satu, dua …
Kremus
Daging gigitan pertama mendarat selamat di lidah, bagian samping belakang paling cepat bereaksi. Kecuuuuuuuut gila! Gigi mengunyah, menelan daging secara perlahan, lumat. Rasa segar dominan. Meski buah yang digunakan dalam ‘rojak’—cara masyarakat Tumiang menyebut rujak, hanya satu jenis saja, rasanya tetap nikmat. Rojak sangat berbeda dengan rujak ala Jawa yang punya beragam buah, dari apel, mangga muda, hingga bengkoang. “Orang-orang sini suka rojak ini,” Bu Rita pun memanggil rombongan kecil anak-anak yang mungkin baru saja mandi di sungai belakang. Mereka dengan senang hati melahap sepiring kecil penuh rojak ini.
![]() |
| Yogi yang rupanya putra Dayak asli. Beda dengan Andre yang Melayu |
Bicara tentang bahasa, masing-masing kampung alias dusun di Tumiang (ada 9 RT di sini) rupanya memiliki bahasa Dayak yang berbeda. Apabila di kampung Sakek (RT 5) menggunakan bahasa Dayak Damea, di kampung Sangkinahu (RT 7) justru menggunakan bahasa Dayak Ba’ahe. Begitu juga di kampung Padang (RT 1 & 2) yang menggunakan bahasa Dayak Bajare. Meskipun ada perbedaan perbendaharaan dalam pelafalan, masyarakat desa Tumiang tidak mengalami kendala yang berarti dalam berkomunikasi.
Yogi tampak ketagihan, ia kembali menyendok sepiring kecil penuh rojak segar ini. “Maklum bu kangen rasa-rasa makanan sini, di Jogja jarang nemu beginian. Paling mentok binke Pontianak,” tutur Yogi. Keringat bercucuran dari dahinya, tapi ia kembali tambah.
‘Kamu doyan atau lapar Yog?’ hehe.















